PEMBELAJARAN Daring (dalam jaringan) jadi trending topik akhir-akhir ini dalam dunia pendidikan negeri ini, sebagai konsekuensi dari maraknya wabah pandemi Corona Virus Disease (Covid-19) yang melanda berbagai wilayah.

Hal ini diperkuat Surat Edaran Mendikbud Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pencegahan Covid-19 pada Satuan Pendidikan, dan Nomor 36962/MPK.A/HK/2020 tentang Pembelajaran secara Daring dan Bekerja dari Rumah dalam Rangka Pencegahan Penyebaran Covid-19). Sejumlah aplikasi digunakan dalam proses pembelajaran, seperti Google Classroom, Zoom, Microsoft Teams hingga WhatsApp (WA). Melalui  daring ini, interaksi guru dan siswa dilakukan secara online.

Pembelajaran daring sebagai solusi alternatif agar kegiatan pembelajaran tetap berlangsung di masa pandemi covid 19 ini, sebagai hak siswa untuk mendapatkan pendidikan. Namun demikian, hakikat belajar justru kurang di dapat melalui pembelajaran daring ini, perubahan perilaku belajar kurang diperhatikan. Guru memberikan materi pelajaran secara virtual maupun modul, dan dilanjutkan penugasan dengan waktu yang ditentukan, cenderung mengukur aspek kognitif siswa semata, sementara  perkembangan siswa dalam aspek afektif dan psikomotorik, sulit diketahui guru. Padahal, tujuan belajar tak hanya menitikberatkan pada aspek akademik, melainkan lebih dari itu, yaitu perubahan sikap.

Di samping itu, pembelajaran daring ini juga tidak semua cocok untuk siswa karena setiap siswa memiliki gaya belajar yang berbeda. Secara umum, gaya belajar yakni visual, auditori, dan kinestetik. Siswa yang cenderung belajarnya secara visual lebih mudah menerima pelajaran dengan melihat atau mengamati terlebih dahulu sebelum belajar hal yang baru. Siswa yang gaya belajarnya auditori, maka dia harus mendengarkan penjelasan terlebih dahulu untuk mudah memahami pelajaran. Sementara siswa yang gaya belajarnya kinestetik dia selalu ingin bergerak dan lebih tertarik mencari sendiri tanpa harus selalu membaca.

Ditambah lagi persoalan tidak semua siswa memiliki perangkat android, andaipun punya, ada pula yang bergantian dengan kakak atau adiknya maupun orang tuanya. Begitu pula jaringan internet yang tidak semua terjangkau di plosok-plosok desa, sehingga menjadi penghambat efektivitas dan kualitas hasil pembelajaran. Begitupun bila ada guru dan siswa yang gagap teknologi (gaptek), pengetahuan dan keterampilan digital kurang memadai atas perangkat teknologi pembelajaran daring dan belum terbiasa dalam penggunaannya, tentu menjadi  terhambat sehingga tujuan pembelajaran tidak dapat tercapai.

Terlepas dari permasalahan di atas, di masa pandemi covid 19 ini pembelajaran daring menjadi satu-satunya pilihan sehingga pembelajaran tetap berlangsung dari rumah. Efektivitas pembelajaran daring, dipengaruhi oleh kemampuan guru dalam  melakukan kegiatan manajemen. Paling tidak ada tiga menajemen yang dilakukan oleh guru dalam mengelola pembajaran daring, yaitu manajemen waktu, manajemen kelas dan manajemen pembelajaran.

Pertama, manajemen waktu, yakni kegiatan guru dalam mengatur jam pelajaran. Jam pelajaran daring tidak mesti sama dengan jam pelajaran saat tatap muka. Jam pelajaran tatap muka antara 35-45 menit tergantung masing-masing jenjang pendidikan. Penugasan belajar dalam pembelajaran daring diatur oleh guru yang memungkin melebihi dari jam tatap muka, di sini ada kelonggaran waktu karena mungkin terjadi jaringan onlinennya yang kurang bersahabat, sehingga memerlukan waktu yang lebih dalam pengerjaan tugas.

Kedua, manajemen kelas, yakni kegiatan guru dalam mengatur kegiatan belajar siswa di masing-masing kelas. Guru yang mengajar lebih dari satu kelas untuk satu mata pelajaran, maka melalui media daring, guru membuat forum kelas sejumlah kelasnya dan mata pelajaran yang diampunya, sementara dapat pula bagi guru yang menggunakan WhatsApp group (WAG), anggota kelas dapat dijadikan satu dalam WAG kelasnya untuk satu mata pelajaran.

Ketiga, manajemen pembelajaran yakni kegiatan guru dalam mengelola situasi belajar siswa, melalui pembelajaran daring dengan mengerjakan quiz dan soal-soal yang diberikan oleh guru atau pun penugasan lainnya. Guru dapat berinterasi,menjelaskan materi secara online melalui aplikasi Zoom, melakukan diskusi, dialog dan tanya jawab. Dalam manajemen pembelajaran ini tentu diminta kepiawaian guru dan kebijaksanaan guru sehingga ritme tugas yang diberikan tidak membebani siswa.

Ketiga menajemen tersebut dilakukan oleh guru dalam pembelajaran daring. Terlepas dari keterbatasan yang terdapat pada pebelajaran daring, namun ini telah menjadi kabijakan nasional untuk diterapkan di sekolah-sekolah dalam masa pandemi Covid-19. (ila)

*Penulis merupakan Dosen Manajemen Pendidikan Prodi PGSD FKIP UAD