Sebelum dikenal sebagai tempat menikmati panorama malam Yogyakarta, Bukit Bintang dulunya bernama Bukit Hargo Dumilah.
Sekitar tahun 1972, bukit ini menjadi pasanggrahan Sri Sultan Hamengkubuwono IX, tempat beristirahat Sultan dan masyarakat yang melintas.
Menurut cerita warga tua, suasana di Hargo Dumilah dulu sangat tenang.
Udara sejuk dan panorama alamnya menjadikan tempat ini cocok untuk beristirahat.
Bahkan, dibangun pula benteng sederhana sebagai fasilitas bagi siapa saja yang singgah di sana.
Namun, wajah bukit ini berubah pascagempa Bantul tahun 2006. Bencana besar itu memaksa banyak warga kehilangan rumah dan mata pencaharian.
Dalam keterbatasan, mereka mulai mendirikan warung-warung kecil di atas Hargo Dumilah, mencoba peruntungan dengan menjual makanan kepada pelintas.
Tak disangka, inisiatif sederhana itu menjadi cikal bakal wisata malam Bukit Bintang seperti yang dikenal sekarang.
Dari tempat yang dulu menjadi persinggahan Sultan, kini berubah menjadi pusat kegiatan ekonomi masyarakat sekitar.
Perubahan ini menjadi bukti bahwa Hargo Dumilah bukan sekadar bagian dari sejarah kerajaan, melainkan juga saksi perjalanan masyarakat Yogyakarta dalam menghadapi perubahan zaman.
Kini, di bawah cahaya gemerlap kota yang tampak dari ketinggian, Bukit Bintang berdiri sebagai simbol harmoni antara sejarah, budaya, dan daya juang warga pascagempa.
Penulis : Arsy Apriliany Munawaroh