JOGJA - Puluhan tahun mengayuh becak mencari nafkah di Kawasan Sumbu Filosofi, kini mereka bisa merasakan menggunakan becak kayuh bertenaga alternatif listrik.
Becak tersebut telah mengaspal atau beroperasi sejak Jumat (5/4), hingga sekarang puluhan wisata domestik telah diangkut.
Ketua Paguyuban Becak Wisata Paimin Ahmad Sarjono mengatakan, becak kayuh bertenaga alternatif itu sangat membantunya dan para anggota.
Terkait tarif yang dipatok, ia tak sembarangan. Tarif resmi tersebut ditetapkan tergantung jarak jauh atau dekat.
Paguyuban ini mangkal di sekitar Hotel Khas Malioboro tak jauh dari SMAN 10 Jogja.
"Kalau dari situ ke Stasiun Tugu Rp 30 ribu, ke Keraton Rp 20- Rp 25 ribu. Mboten nutuk, ini saya buat tarif resmi," tambahnya.
Rata-rata pengemudi becak kayuh itu telah lama kerja 20-40 tahun mengayuh becak tradisional di kawasan Sumbu Filosofi.
Meski koperasi telah menerima hibah becak bertenaga alternatif, tidak menutup kemungkinan becak kayuh tradisional masih bisa dioperasikan.
Peralihan tersebut ditujukan agar pengemudi becak kayuh tidak terlalu menguras tenaga dan agar bisa naik kelas.
"Saat membutuhkan becak kayuh yang tradisional masih bisa dioperasikan," imbuhnya.
Pengemudi becak lain Parjono (65) warga Bantul DIY yang mendapatkan hibah becak kayuh tenaga alternatif listrik mengatakan hal senada.
Hanya saat menanjak ia merasakan sedikit susah untuk menahannya. Selain itu, rodanya juga terlalu mepet ke rangka.
"Lebih enak, ringan. Tapi rodanya itu mepet," katanya.
Editor : Bahana.