RADAR JOGJA – Kekhawatiran masih menghinggapi pedagang Teras Malioboro. Sampai dengan libur Lebaran, dagangan mereka tak seramai seperti saat berjualan di pedestrian Malioboro.
Sutini, salah satu pedagang yang kini menggantungkan diri pada Teras Malioboro. Perempuan 53 tahun itu sebetulnya mengaku senang. Lantaran dagangannya mulai diminati. Berkah musim liburan, telah mengantarkan wisatawan berkunjung ke Kota Jogja.
“Penjualan ini, masuk liburan ya lumayan. Pas puasa kemaren hancur,” ungkapnya saat bertemu Radar Jogja Selasa (3/5).
Ibu tiga orang anak ini, sekarang bisa menjual lebih dari 20 potong baju. Tapi saat Ramadan lalu, hanya satu atau dua helai saja yang laku dijualnya. “Bisa karena dampak relokasi, bisa juga karena puasa,” sebutnya seketika setelah diam sejenak. Sutini menambahkan saat masih berjualan di pedestrian Malioboro, sepinya tidak separah di sini.
Sutini mengenang masa-masa berjualan di pedestrian. Kerap kali dijumpai wisatawan yang hanya iseng mampir ke lapaknya. Saat melihat, ternyata wisatawan itu justru tertarik dengan dagangan yang dijajakan. “Nah sekarang, kalau orang nggak niat beli kan, nggak masuk sini (Teras Malioboro, Red),” paparnya membandingkan.
Warga Dagen, Gedongtengen, Kota Jogja ini juga menyoroti jauhnya lokasi parkir. Sebab hal itu turut berdampak pada jumlah kunjungan dan pendapatannya. “Sekarang jauh dan mahal,” sesalnya.
Oleh sebab itu, Sutini merasa khawatir. Saat musim liburan habis, dia kembali surut pendapatan. Terlebih, konsep Teras Malioboro dinilainya mirip dengan Beringharjo. “Tapi Beringharjo sudah punya nama. Ini tempat baru, jadi harus diperkenalkan ulang,” lontarnya.
Kekhawatiran Sutini nyata. Sebab kepindahan pedagang kaki lima (PKL) dari pedestrian Malioboro, telah membuat Lailil Faiza kaget sekaligus heran. Ibu tiga orang anak ini mengira, para PKL sengaja libur dalam momen Lebaran 2022. Kemudian para PKL baru buka pada malam hari. “Saya belum tahu, ada Teras Malioboro. Itu di mana?” ujarnya balik bertanya.
Warga Surabaya, Jawa Timur ini sengaja mampir ke Malioboro. Sebelum bertandang ke rumah saudaranya yang ada di Semarang, Jawa Tengah. Maksud hatinya, memang ingin membeli oleh-oleh. Sekaligus jalan-jalan di Kota Gudeg. “Biasanya beli daster atau bakpia. Ya sudah ini kami duduk-duduk saja menikmati suasana Malioboro,” sebutnya perempuan 37 tahun itu.
Selain Lailil, pengunjung Malioboro lainnya juga memilih hanya menikmati suasana. Seperti yang dilakukan oleh MH Nafi dan keluarganya. Pria 58 tahun ini mengaku sudah tahu keberadaan Teras Malioboro. Termasuk keberadaannya yang dipecah menjadi dua. “Belum mampir ke Teras Malioboro 1 dan 2 tapi tidak kaget. Karena sudah sejak beberapa waktu, tahu ada kepindahan,” jabarnya. (fat/bah)

Wisata