Era 1980, TTS kerap dijumpai di majalah-majalah maupun koran. Tetapi pada era 1990-an, TTS semakin banyak dibukukan. Tak mengenal sasaran, buku TTS menyasar anak-anak hingga orang dewasa. Materianya disesuaikan dengan usia, bahkan dengan pengetahuan pembelajaran sekolah kala itu.
“Dulu seneng ngisi TTS zaman SMP. Bukunya candu banget, sekalian ngoleksi foto-foto artis dan penyanyi. Saya pernah punya sampulnya gambar Nike Ardilla waktu masih belia. Juga Bella Saphira, artis favorit saya,” ungkap Titin Sapitri, 39, warga yang tinggal di Sleman (15/7).
Perempuan kelahiran 1983 ini mengaku, dia menghabiskan waktu luang mengisi TTS bersama teman-temannya di kampung halamannya, Solo. Setiap hari dia menyisihkan uang sakunya dan di akhir pekan dia membelikan buku TTS. “Kadangkala iuaran dengan teman,” bebernya.
Meski diakui, ia tak pernah menyelesaikan mengisi teka-teki. Namun rasa penasarannya tak pernah berhenti dapat mengisi teka-teki. “Saya tipikal orang yang susah belajar. Tapi untuk menjawab rasa penasarannya itu, mau nggak mau ya baca buku, agar bisa menjawab pertanyaan TTS,” katanya.
Menurut Dokter Spesialis Saraf Konsultan Neurobehaviour Departemen Neurologi, Fakultas Kedokteran Kesehatan dan Ilmu Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) Amelia Nur Vidyanti, mengisi teka-teki silang secara rutin memiliki efek positif bagi tubuh. Selain dapat mengasah otak, juga mencegah kepikunan.
“TTS istilah asingnya crossword puzzle, sudah ada studinya di luar negeri. Mengisi TTS secara rutin, setiap hari sekali mengisi paling tidak 25 sampai 30 menit bisa memperbaiki dan mempertahankan fungsi memori pada lansia yang sudah ada gangguan memori,” terang Amelia saat dihubungi Radar Jogja kemarin (15/7).
Kendati begitu, hasil studi beragam. Efek positifnya tidak langsung kentara. Melainkan harus diimbangi dengan kesehatan fisik yang nyata. Misalnya diimbangi dengan berolahraga rutin, menjaga kesehatan lainnya dengan pola makan hidup bersih dan sehat. Paling tidak, mengisi TTS seminggu tiga kali, rutin. “Tentu manfaatnya akan terasa,” sebutnya.
Dokter yang bertugas di RSUP Sardjito ini juga menyebut, bagi orang yang sehat dan bugar, mengisi TTS dapat melatih kecepatan berpikir, sejauh mana dapat menyerap pengetahuan atau disebutnya fungsi eksekutif.
Bagi lansia, dapat menghambat kepikunan sekaligus menghambat risiko penyakit yang menyebabkan penurunan daya ingat dan cara berpikir (demensia). “Perannya bukan pencegah penyakit, melainkan mencegah perburukan fungsi kognitif,” tandasnya. (mel/laz) Editor : Editor Content