Mantan pemain kelereng, warga Putat, Patuk, Tugiran mengatakan, alat permainan masa lalunya itu lebih populer disebut keneker. Berbeda lagi ketika memainkannya berubah menjadi kentesan atau nekeran. “Kentesan dan nekeran kata lain dari mengentes atau menembak kelereng lain,” katanya saat dihubungi Radar Jogja (10/6).
Kelereng umumnya memiliki diameter 1/2 inci atau 1,25 cm dari ujung ke ujungnya. Kelereng baru dia menyebutnya gejris (masih mulus) atau grepes/brocel (kelereng pecah saat dimainkan). “Saya punya pengalaman menjengkelkan kala itu. Tapi kalau sekarang justru malah jadi kenangan indah,” ujarnya.
Sebelum berbagi memori kentesan, Tugiran sedikit me-review cara main kelereng. Sebelum memainkan kelereng, ada prosedur tetap permainan yang meliputi aturan permainan kelereng. “Aturan wajib permainan, kalau kalah harus menyerahkan kelerengnya,” ucapnya.
Kemudian ketika menembak kelereng, tidak boleh berubah tempat dari kelereng yang sebelumnya berada. Biasanya antarpemain bakal bersitegang ketika memasuki moment seperti ini. “Kelereng bisa dimainkan secara ramai-ramai, baik individu melawan individu, atau antarkelompok,” terangnya.
Diawali dengan membuat lubang di tanah minimal sebesar tiga kelereng, yang telah disepakati oleh para pemain lainnya. Kalau lebih dari dua orang, pemain harus dibagi menjadi dua kelompok. “Permainan dimulai dengan melemparkan kelereng masing-masing ke arah mendekati lubang tadi. Kalau sekali lempar masuk lubang, dinyatakan diskualifikasi,” ucapnya.
Nah, pemain yang lemparan kelerengnya paling mendekati lubang berhak bermain pertama. Kemudian urutan selanjutnya disesuaikan dengan jarak dekat antara kelereng yang dilempar dengan lubang. “Jika berhasil memasukkan kelereng ke dalam lubang, berpeluang menyerang lawannya atau dikentes,” ujarnya.
Ketika lawan terkena serangan, kelereng lawan tidak dapat dimainkan lagi atau dikatakan 'mati' dan merelakan untuk diambil sesuai perjanjian. Pemain yang belum memasukkan kelerengnya pada lubang, tidak bisa menyerang dan mematikan kelereng yang lain. “Jadi, harus masuk ke lubang dulu baru menyerang,” ungkapnya.
Ditanya model permainan kelereng yang lain, Tugir menghela napas panjang dan tersenyum. Dia ingat saat main head to head atau satu lawan satu dengan sohib kecilnya, bernama Aris. “Saya menang banyak tapi kelereng grepes semua. Diapusi (ditipu, Red),” kenangnya.
Kala itu Tugiran dan Aris main kelereng model bergaris segi empat. Setiap sudutnya ada kelereng dan pihaknya berhasil sapu rata bersih. Kurang lebih model permainan garis segi empat mirip dengan lubang tadi. “Menurut saya main kelereng melatih sportivitas dan kejujuran,” ujarnya.
Merasa Cowok, Ya Nekeran
Anak laki-laki yang lahir di medio 90-an pasti tidak asing dengan nekeran. Secara umum permainan tradisional ini lebih dikenal dengan istilah bermain gundu atau kelereng. Nekeran adalah permainan paling cowok di masanya. Anak laki-laki jika tidak bisa main kelereng, bisa menjadi objek bully kala itu. Main lompat tali saja sana sama cewek-cewek!
Benar saja, nekeran menjadi salah satu permainan anak laki-laki yang paling maskulin dan populer selain menyalakkan meriam bambu (long bumbung) dan mandi di sungai (melompat dari teras jembatan ke sungai yang dalam, Red). Nekeran adalah permainan murah meriah dan bisa dimainkan beramai-ramai.
Secara teknis, bermain nekeran dibutuhkan kekuatan jari. Ada yang mengandalkan jari tengah, tetapi juga ada yang mengandalkan ibu jari. Semakin kuat menjentikkannya, semakin jauh jangkauannya atau bisa mendapat target taruhan lebih banyak. Seperti bermain billiard, nekeran sebetulnya juga butuh strategi dan keterampilan, baik dalam membidik atau memposisikan letak gacuk setelah dijentikkan dari kelereng musuh.
Permainan ini ramah di semua tempat, kecuali air. Bisa dimainkan di tanah lapang, kendati lebih kerap dimainkan di pekarangan atau halaman rumah yang teduh, di bawah pohon nangka atau petai. Juga bisa dimainkan di dalam rumah berlantai tegel, semen atau keramik sekalipun. Pada tahun 1990, hampir setiap toko mainan menyanding kelereng untuk dijual-belikan, harganya cukup murah. Anak-anak kadang juga mencarinya di dalam kaleng cat semprot.
Basiran 45, warga Dusun Tegallembut, Kalurahan Giripeni, Kapanewon Wates, Kulonprogo mengungkapkan, salah satu jenis nekeran yang paling umum ditemui yakni neker selubang. Permainan ini menggunakan lubang pada tanah dengan diameter dan kedalaman tertentu. Lubang ini dibuat cukup dengan tungkai kaki.
Permainan akan dimulai dengan adu dekat melempar neker ke lubang yang sudah dibuat. Siapa yang berhasil memasukkan neker ke lubang kecil itu, dialah yang akan main terlebih dahulu. Jika tidak ada yang masuk satu pun, maka neker yang paling dekat dari titik lubang yang berhak main paling duluan.
Supri 40, berbeda lagi. Ia lebih suka nekeran pot bundar. Pemain ini akan diawali membuat lingkaran dengan diameter sesuai kesepakatan bersama. Di tengah lingkaran akan diletakkan neker taruhan sebagai target sasaran untuk dibidik. Sama dengan selubang, semua pemain akan melemparkan kelereng dan adu dekat dengan garis lingkaran, tetapi tidak boleh sampai berhenti di dalam lingkaran.
Pemain kemudian akan melesatkan (menjentikkan, Red) kelereng, membidik neker taruhan yang sudah ditata di tengah. Jika neker target berhasil dibidik dan keluar dari lingkaran, ia menang dan kelereng itu akan menjadi miliknya.
“Kalau saya pilih gacuk neker (jago) yang agak besar. Biasanya kuat mendorong dan bisa keluar lingkaran. Kalau nekernya sama atau lebih kecil, biasanya akan muter di tengah, itu namanya dut. Dut itu bahasa jawanya modar atau mati,” selorohnya.
Berbeda lagi dengan Tugiran, 59. Saat masih anak-anak ia mengaku jago main nekeran dengan sistem pot segitiga. Sesuai namanya, permainan ini digunakan susunan garis lempar berbentuk segitiga. Cara mainnya mirip dengan pot bundar (lingkaran). Jika kelereng yang terbidik keluar dari garis segitiga, maka pemain berhak mengambil kelereng itu. Hukumannya sama, gacuk tidak boleh berhenti di tengah garis segitiga.
Gambar segitiga bisa dimodifikasi dengan cara menambahkan garis tengah lurus dari titik puncak menuju alas segitiga. Atau melintang ke kanan dan kekiri, garis tengah sekaligus titik persilangan itu akan diletakkan neker taruhan. Berbeda dengan selubang, permainan ini tidak menggunakan sistem poin, atau pemain memperoleh satu kelereng jika berhasil dibidik.
“Kalau pot segitiga ini menggunakan sistem taruhan. Pemain berhak mengambil setiap kelereng yang berhasil dibidik. Rahasianya gacuk-nya pakai kelereng yang lebih kecil dari neker taruhan yang diletakkan di garis. Dengan sentakan yang terukur, gacuk tidak akan jauh dari garis dan akan mudah menghabiskan semua kelereng yang ada di segitiga itu,” ucapnya.
Ditambahkan, bicara gacuk bisa dipilih berdasarkan jenis nekernya. Ada neker dengan motif warna warni di dalam, sementara bagian luar seperti lapisan kaca yang bening, kekuatannya biasanya kurang, dan gampang pecah atau gompal (retak-retak). Pilih neker yang putih susu dengan guratan motif warna merah putih hijau kuning transparan di tengah. “Kelereng ini sering disebut dengan nama dir atau neker Jowo,” Besarnya sama, tetapi kekuatannya lebih jos dan tidak mudah pecah,” ungkapnya. (gun/tom/laz) Editor : Editor Content