Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Semakin Rumit, Semakin Mahal

Editor Content • Sabtu, 12 Maret 2022 - 14:35 WIB
NYAMAN: Avelino duduk santai menunjukkan lantai tegel klasik di kediamannya, Sinduadi, Mlati, Sleman, (11/3).(GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA)
NYAMAN: Avelino duduk santai menunjukkan lantai tegel klasik di kediamannya, Sinduadi, Mlati, Sleman, (11/3).(GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA)
RADAR JOGJA - Memadukan tegel klasik ke dalam bangunan tempat tinggal membangkitkan kerinduan Desi Suryanto akan kampung halamannya. Tegel penuh warna, diselimuti beragam ornamen ini membawanya pada kenangan nostalgia. Kenangan saat kecil bersama orangtuanya di rumah berlantai tegel lawasan yang membuatnya nyaman.

“Itu sebabnya saya membangun rumah ini. Sejak kecil saya punya cita-cita bila membangun rumah memiliki lantai tegel (klasik, Red),” ungkap Desi, pria berusia 42 tahun yang tinggal di Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, ini saat ditemui Radar Jogja Jumat (11/3).

Cita-citanya itu terwujud sewindu lalu, tepatnya 2014. Akhirnya dia memulai perburuan tegel klasik. Mulai dari Imogiri (Bantul), Godean (Sleman), dan lainnya. Samapi akhirnya dia menemukan pabrik tegel kunci di Pakem, Sleman.
Karena pemesanannya harus mengantre satu tahun di pabrik itu, dia pun memutuskan melanjutkan perburuan ke lokasi lain dan mendapatkan informasi rumah klasik hendak dibongkar dan tegel klasik dijual. Karena pembangunan rumah hampir jadi tinggal menunggu lantainya saja, dia putuskan membeli tegel bekas itu. Lokasinya di Jalan Kemetiran, Kota Jogja.

Saat itu harganya murah Rp 250 ribu per pikap, dengan luas 20 meter persegi dan dan ukuran per tegel 20x20 cm. Dia memesan dua pikap tegel, sehingga total pembelian 40 meter persegi, ditambah ongkos pengiriman Rp 125 ribu. Tidak hanya tegel full color yang dia dapat, tetapi juga tegel dengan corak tekstur.

Dulu tegel klasik baru juga murah. Untuk warna polos Rp 100 ribu per meter dan bercorak ornamen Rp 150 ribu hingga Rp 180 ribu per meter. “Semakin rumit tegel, semakin mahal,” ungkapnya.

Pria yang berprofesi sebagai fotografer di sebuah media ini mengaku, saat itu tegel yang hendak dipasang masih belum cukup memenuhi luasan rumahnya sekitar 108 meter persegi. Beruntung dia mendapatkan tawaran tegel klasik secara cuma-cuma oleh sejawatnya. Adapun merek tegel jadul yang terkenal, selain tegel kunci ada juga panjen, keraton, dan diamon.

“Ini semua saya pasang bersama istri. Saya padupadankan di setiap ruangan ada. Kebetulan rumah saya bergaya vintage,” bebernya. Tegel klasik dia padukan dengan interior era 1960-1970-an. Karena rumahnya mengangkat konsep un-finish (tidak pernah selesai), maka dia balut dengan tegel alami warna abu-abu ditambah warna semen pada aksen tertentu. Misalnya di bagian tangga, dia tinggalkan abu-abu semen.

Kendati begitu, kendala menggunakan tegel bekas harus meratakan sisa semen yang menempel di balik tegel. Sehingga membutuhkan waktu dan tenaga lebih untuk setiap pemasangannya.

Demikian juga bagi pengguna tegel klasik, seperti perupa muda Andreas Avelino dan Dhiasasih Ulupi. Kediaman pasangan suami istri di Sinduadi, Mlati, Sleman, ini lantainya penuh dengan tegel klasik. Bahkan penataannya dibiarkan secara acak. Avelino menyebutnya abstrak. Terdiri atas warna-warna polos yang full color dan berbagai oranamen. Mulai ornamen flora (tumbuhan), perpaduan dan susunan bidang geometrik, ada juga fauna (binatang) yang sudah mengalami deformasi bentuk.

Menurut Avelino, ada tiga model pengaruh motif tegel. Corak biru dan putih dulu banyak digunakan pada bangunan peninggalan Belanda. Nah, corak yang didominasi kuning kecoklatan untuk menunjukkan kasta menengah dan full motif digunakan pada bangunan-bangunan kasta atas. “Kalau di Keraton juga ada, motifnya khusus. Cenderung warna terang dan bagian tepi seperti ada lis-nya,” beber dia.

Avelino yang memiliki hobi berburu dan jual beli barang antik ini mengatakan, harga tegel mulai melonjak seiring kebutuhan di kalangan rumah industrial, kafe maupun hotel penginapan yang semakin masif. Saat ini harga satu meter tegel klasik sudah mencapai Rp 250 ribu hingga Rp 300 ribu.

“Kadang harga yang bekas lebih mahal lagi. Semakin rumit motif satu meternya bisa jutaan,” bebernya. Kediamannya ini dibangun ayahnya bernama Widiantoro, mantan pengelola Bentara Budaya Jakarta.

Terpisah, Widiantoro mengatakan, penggunaan tegel klasik ini mengikuti tren. Pada 1995, tegel klasik digandrungi oleh sejumlah seniman Jogjakarta dan sekitarnya. Bahkan PT Kunci kerap mendapatkan pesanan borongan oleh seniman. Sampai-sampai ada yang rela antre karena sering kehabisan.

“Tegel klasik itu penggambaran kasta. Zaman dulu hanya kalangan atas dan keraton saja yang menggunakan. Tapi era 1990-an, banyak orang yang menggunakan,” katanya. Tegel klasik ini mengandung tiga budaya. Yakni, China, Belanda dan Jawa. “Kalau yang saya buat itu pakai tegel bekas. Bekas lantai stan kegiatan Bentara Budaya tempo dulu,” bebernya. (mel/laz) Editor : Editor Content
#Sleman