Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Puyer Semakin Ditinggalkan karena Waktu Racik Lama dan Muncul Banyaknya Variasi Rasa Sirup

Agung Dwi Prakoso • Minggu, 8 Maret 2026 | 08:00 WIB

 

Ilustrasi obat-obatan.
Ilustrasi obat-obatan.

JOGJA - Mortir dan stamper di era 1980 hingga 1990-an menjadi komponen yang wajib ada di apotek maupun rumah sakit bagian kefarmasian. Barang tersebut menjadi barang pokok dalam pembuatan obat puyer yang pada saat itu hampir 90 persen rumah sakit atau apotek di Indonesia memproduksinya.

Wakil Ketua Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia (GPFI) DIY Abi Kusno mengatakan, puyer merupakan obat berbentuk bubuk halus. Konon, berasal dari bahasa Belanda yakni poeder yang oleh masyarakat pribumi diucapkan sebagai puyer untuk mempermudah pelafalannya.

Puyer pada zaman itu cenderung diproduksi oleh apoteker dengan pasien mayoritas anak-anak. Puyer dinilai menjadi andalan obat gerus atau obat bubuk yang lebih mudah dikonsumsi bagi anak dibandingkan obat berbentuk pil, kapsul, maupun tablet.

"Itu kan bisa diseduh dengan air, atau dicampurkan ke bahan lain," ujarnya kepada Radar Jogja Jumat (6/3).

Puyer yang diracik, biasanya mengandung beragam obat. Racikan yang dibuat oleh apoteker tergantung resep dokter yang dibawa oleh pasien. Seperti obat penurun panas hingga pereda nyeri.

Menurutnya, saat ini beberapa apoteker masih memproduksi puyer. Namun, jumlahnya sudah banyak berkurang. Hal itu disebabkan karena menurunnya permintaan pasar. Proses produksi puyer di setiap apotek juga relatif lebih ribet dan memakan waktu yang lama.
"Bisa 15 menit itu apoteker meraciknya," ucapnya.

Belum lagi jika antrian apotek memanjang. Masa tunggunya tentu akan lebih lama karena proses peracikan dilakukan secara manual. Apoteker harus menumbuk, mencampur, dan memastikan obat yang diproduksi sesuai takaran dan prosedur. "Sekarang sudah banyak teknologi, jadi itu menjadi salah satu faktor penyebab penurunan jumlahnya," ucapnya.

Selain itu, puyer juga tergantikan oleh obat dengan kemasan sirup maupun kapsul. Sehingga anak-anak bisa meminum obat tanpa merasakan pahit berlebih. "Variasi rasa (sirup, Red) yang disukai anak," jelasnya.

Kemasan obat puyer juga unik. Obat yang sudah diracik itu diwadahkan ke dalam kertas dan diberikan kepada pasien. Wadah puyer menggunakan kertas khusus. Ia menyebutnya sebagai kertas puyer. Bentuknya seperti kertas minyak, tapi tidak ada lapisan plastik di permukaannya. "Yang jelas dibandingkan kertas biasa, kertas puyer lebih steril," jelasnya.

Dalam literasi yang ia dapatkan, puyer marak di sekitar tahun 1970 hingga 1990-an. Namun, berdasarkan pengalaman pribadinya, penjualan bubuk obat bahan baku puyer sangat laris manis pada medio 2006-2013. "Apotek setiap hari pesan bubuk obat baku. Udah kaya jualan kacang goreng," ujar mantan sales perusahaan suplier bahan baku obat itu.

Menurutnya, obat puyer saat ini masih bisa ditemukan. Khususnya di gedung-gedung apotek yang sudah melegenda karena usianya yang sudah lama. Salah satu perkembangan teknologi yang bisa dilihat sampai saat ini adalah adanya obat puyer kemasan pabrikan.

"Itu bentuk modernisasi atau kemajuan teknologi," paparnya.

Apoteker salah satu perusahaan bahan baku obat di Jogja, Eka Setyawati, SSi, Apt menambahkan, salah satu faktor berkurangnya puyer adalah ketidakpraktisan dalam proses meracik. Tak jarang banyak apotek dulu memasang papan informasi bertuliskan pemberitahuan dengan bunyi 'mohon harap bersabar karena apotek sedang meracik obat'.
"Karena proses meracik puyer memang relatif lama," ujarnya.

Tak hanya papan informasi, item yang banyak ditemukan di apotek zaman dulu adalah alat deplok atau gerus. Dalam ilmu farmasi, alat itu disebut mortir dan stamper. "Seperti ulekkan dan coek," kelakarnya. (oso/eno)

Editor : Sevtia Eka Novarita
#GPFI #stamper #apotek #gabungan perusahaan farmasi indonesia #Obat Puyer #Obat Sirup #mortir #DIY #sirup #puyer