Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Dosen Kriya Sebut Fungsi dan Desain Gembor Sudah Bagus, Permudah untuk Penggunanya

Adib Lazwar Irkhami • Minggu, 1 Februari 2026 | 07:50 WIB
Dosen Kriya Logam di Jurusan Kriya, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia (ISI) Jogja Budi Hartono.
Dosen Kriya Logam di Jurusan Kriya, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia (ISI) Jogja Budi Hartono.

RADAR JOGJA - Gembor atau alat penyiram tanaman tradisional berbahan seng masih memiliki daya tarik tersendiri.

Meski tampak sederhana, alat ini merupakan hasil pemikiran perajin masa lampau yang bagus.

Dosen Kriya Logam di Jurusan Kriya, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD), Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta Budi Hartono menjelaskan, gembor merupakan produk kriya yang sudah sangat matang secara fungsi. Selain itu, dari sudut bentuk juga sudah cukup bagus.

Fungsinya pun sudah memenuhi sebagai penyiram tanaman. "Kalau menurut saya sebagai pengkriya seperti itu," katanya, Jumat (16/1/2026).

Menurut Budi, gembor memiliki kemiripan desain dengan piranti khas angkringan atau yang sering disebut ceret.

Itu terutama pada bagian cucuk atau leher wadah. Meski pada gembor ujungnya dibuat melebar agar pancaran air bisa merata menyerupai hujan buatan.

Meski material utamanya berasal dari pelat seng yang memiliki risiko korosi atau karat dalam jangka panjang, Budi menyebut untuk keperluan non-konsumsi seperti berkebun, hal itu bukan masalah besar. Keunggulan utamanya justru pada sisi praktis dan ekonomis sebagai benda tradisi.

 "Itu benda tradisional yang diciptakan untuk memudahkan menyiram air supaya merata. Terutama untuk skala rumah tangga dan petani pada masanya," ucapnya.

Karena ukurannya yang cenderung besar, menurut Budi, gembor memiliki tantangan pada beban saat diisi penuh.

Sebab jika diisi air penuh, seseorang yang membawa gembor pasti akan merasa berat. "Tapi secara desain, ini sudah sangat oke," tegasnya.

Disinggung asal-usulnya, Budi mengaku masih belum mengetahui apakah desain gembor merupakan adopsi dari luar negeri atau murni kreasi lokal Jawa.

Mengingat, kemiripannya dengan alat serupa di Jepang maupun Amerika.

Walaupun zaman telah berganti dengan munculnya sprinkler dan selang yang bisa diatur pancarannya hingga menyerupai embun, bagi Budi, gembor tetaplah sebuah karya kriya logam yang memiliki nilai sejarah dan fungsi yang presisi pada masanya.

"Ini adalah bukti bagaimana alat tradisional diciptakan dengan mempertimbangkan kemudahan penggunanya," tuturnya. (ayu/laz)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#tradisional #Desain Gembor #Perajin #Dosen Kriya #gembor #alat penyiram tanaman