KULON PROGO - Di tengah geliat modernisasi alat pertanian, sebuah gembor tua masih setia menjadi saksi kerasnya hidup petani tadah hujan di Gunungkidul.
Petani asal Padukuhan Wareng Tiga, Kalurahan Wareng, Kapanewon Wonosari, Samidi, 61, telah memikul gembor berbahan seng tebal itu selama 40 an tahun lamanya.
Dari bibir sumur ladang sedalam delapan meter, air ditimba, dituangkan ke gembor, lalu dipikul ke hamparan tanaman tembakau.
Seperti kebanyakan pertanian lahan kering di Gunungkidul, di Kalurahan Wareng merupakan wilayah pertanian tadah hujan.
Air sepenuhnya bergantung pada curah hujan. Namun ketika kemarau datang, warga tetap bertani menanam tembakau.
Siasatnya dengan membuat sumur ladang yang berfungsi menampung air hujan.
“Sumur ini dalamnya sekitar delapan meter. Fungsinya untuk menadah air hujan, supaya pas musim kemarau masih ada stok air untuk dua bulan penyiraman tembakau,” ujar Sumidi saat ditemui di lahannya pada Jumat sore (16/1/2026).
Sejak 1980-an, gembor menjadi alat utama penyiraman. Air dari sumur ladang ditimba, lalu dipindahkan ke lahan tembakau menggunakan gembor yang dipikul dua buah sekaligus.
Satu di depan, satu di belakang. Sistem pikul menjadi ciri khas. Ia menilai dengan cara itu penyiraman bisa dilakukan lebih cepat.
Selain itu, lanjutnya, beban berat juga ditopang pikulan bambu tua dan tebal agar tidak mudah patah. "Sekali pikul itu dua gembor.
Bisa muat 10 liter satunya. Warga di sini selalu menyiapkan bambu yang kuat supaya tidak patah,” ujarnya.
Menurut Samidi, di lahan seluas 1.000 meter persegi yang ditanami tembakau harus disiram berulang kali setiap hari.
Terkait siklus penyiraman, lanjut dia, dari pagi pukul 10.00 hingga 11.00, lalu dilanjutkan sore hari pukul 14.00 sampai menjelang petang pada 17.30. Frekuensi bolak-balik tak terhitung.
Penyiraman dilakukan dua hari sekali selama dua bulan penuh masa tanam. “Dalam sehari bisa ratusan kali,” tutur Sumidi.
Setelah itu, tembakau tak lagi disiram hingga musim panen, sebab kebutuhan air tanaman berkurang.
Pola ini sudah dijalani Sumidi selama puluhan tahun, seorang diri tanpa mempekerjakan buruh.
“Kalau dibilang capek, ya jelas capek. Tapi dulu tidak ada pilihan lain,” katanya.
Ia menyebut tak hanya tembakau, dulu gembor juga digunakan untuk menyiram cabai, terong, dan sayuran lain.
Namun tiga tahun terakhir, penggunaan gembor mulai ditinggalkan. Sumur bor dan pompa air perlahan menggantikan peran alat tradisional itu.
Masuknya sumur bor dan pompa air sejak sekitar 2010-an perlahan mengubah cara bertani.
Meski demikian, keterbatasan biaya membuat sebagian petani tetap bertahan dengan cara lama hingga bertahun-tahun.
“Sekarang saya pakai pompa. Lebih tidak capek, meskipun harus keluar uang untuk bahan bakar,” tegasnya.
Gembor terakhir milik Sumidi dibeli sekitar 1999. Kondisinya kini telah rusak dan terkoyak.
Ciri khas gembor lama terlihat dari modifikasi petani. Bagian atas dan bawah diganti kayu yang disebut blabak.
Sambungan kayu dilapisi aspal agar tak bocor dan lebih awet. “Bahan seng dulu lebih tebal dan kokoh. Sekarang tipis, gampang rusak,” ujarnya membandingkan.
Karena dianggap berharga, bahkan dulu gembor selalu dibawa pulang dan tak pernah ditinggal di gubuk. Jika tertinggal, rawan hilang dicuri.
Kini, gembor seperti itu semakin langka. Tukang pembuat blabak pun hampir tak ada. Namun bagi Sumidi, gembor bukan sekadar alat, melainkan simbol ketahanan petani Wareng menghadapi kerasnya kemarau Gunungkidul.
"Saya masih simpan gembor terakhir yang saya beli, saya simpan di gubuk. Ya, saya gak ada kepikiran untuk membuang ini,” tandasnya. (bas/laz)
Editor : Winda Atika Ira Puspita