JOGJA - Dalam berbagai tradisi di Jogjakarta, jodang kerap jadi satu perangkat yang tidak terlupakan. Peti kayu ini digunakan untuk membawa barang-barang kebutuhan upacara adat.
Tokoh masyarakat asal Kapanewon Turi Heru Cintoko menjelaskan, jodang adalah bentuk kekayaan leluhur Jawa. Hingga saat ini masih digunakan dalam upacara sadranan ataupun merti dusun.
"Salah satu tujuannya dulu untuk menjaga kehigienisan makanan yang ada di dalamnya selama prosesi," katanya.
Menurutnya, barang yang dibawa di dalam jodang sifatnya situasional. Apabila dalam upacara wiwitan maka umumnya digunakan untuk mambawa tumpeng, ingkung, hingga gorengan.
Sementara ketika upacara nyadran, umumnya tumpeng akan dibawa masyarakat. Sementara jodang hanya berisi lauk pauk saja.
"Bisa juga untuk mengangkat pusaka seperti tombak atau keris. Biasanya nanti jodangnya lebih pendek," katanya.
Heru menyebut, jodang memiliki beragam bentuk. Ada yang tutupnya berbentuk segi empat atau segi tiga. Ada juga tutup yang dibuka hanya satu sisi atau pun dua sisi sekaligus. "Nanti ketika mengangkat jodangnya ada yang dua orang, ada yang empat orang," katanya.
Dia sendiri telah beberapa kali membuat jodang untuk beberapa kegiatan. Harga yang dikenakan bisa Rp 1 juta hingga Rp 3 juta. Menurutnya, ini sangat tergantung dengan bahan dan ukiran yang diinginkan.
"Kalau bahan kayu yang bagus tentu dari jati, mahoni, atau sonokeling. Nanti dipernis, terus bisa digunakan turun-temurun," ucapnya.
Walau demikian, jodang juga bisa menggunakan kayu yang lebih murah. Misalnya, sengon dan waru. Namun, biasanya hanya tahan sekitar satu tahun sekali.
"Sebelum agenda pemakaiannya, biasanya akan disosialisasikan makna dan kebutuhannya seperti apa," tambahnya.
Heru menegaskan, jodang adalah warisan yang harus dilestarikan. Masyarakat juga bisa membuatnya sesuai dengan kemampuan masing-masing. "Kalau untuk penyimpanannya, biasanya bersama saja dengan properti adat yang lain," ungkapnya. (del/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita