RADAR JOGJA - Salah satu kader Posyandu Harapan Pertiwi, Dusun Druwo, Bangunharjo, Sewon, Bantul Sujinah menjelaskan, dulu ketika menggunakan timbangan dacin untuk balita saat layanan posyandu, kebanyakan anak-anak yang ditimbang menangis. Menurutnya, kebanyakan anak takut akan ketinggian saat ditimbang.
"Karena anak kebanyakan pas ditimbang itu digantung dan itu selendangnya harus diikat dengan kencang dan dipegangi," ucapnya, Jumat (24/5).
Sujinah mengatakan, penggunaan dacin untuk timbangan bayi waktu posyandu tidaklah gampang. Sebab dalam prosesnya tidak bisa dilakukan oleh satu orang saja. Minimal harus dilakukan oleh tiga orang. "Itu kan harus ada yang ngepasin timbangannya dan ada yang pegang bayinya," katanya.
Tak hanya itu, ia juga mengungkapkan penggunaan timbangan dacin kebanyakan kurang akurat. Apalagi kalau waktu posyandu bayi yang ditimbang itu meronta-ronta, pasti juga akan susah.
Biasanya dacin itu masih baru angkanya bisa akurat.
Akan tetapi kalau sudah lama atau tidak baru, maka angkanya lebih banyak tidak akuratnya. "Lebih lama prosesnya. Namanya bocah digendong, dipekeh pasti nangis. Kalau bayi gerak terus, timbangannya juga tidak akurat," katanya.
Menurut Sujinah, untuk timbangan dacin sendiri sekarang sudah tidak dipakai. Karena dari pemerintah pasca Covid-19 masyarakat sudah dianjurkan untuk mengikuti zaman. Jadi para kader Posyandu sekarang pakai timbangan digital.
"Dacin itu justru tidak aman. Soalnya kalau pas posisi ditaruh ke gendongannya, lalu ada bayi meronta, kemungkinan bisa jatuh ya. Kalau digital kan tidak," jelasnya. (ayu/laz)