RADAR JOGJA - Lodhong atau toples jadul umumnya berasal dari bahan kaca cukup tebal. Isinya makanan ringan atau kering, bentuknya pun unik dan lucu.
Lodhong multiguna zaman dulu banyak ditemui di rumah-rumah dan di warung-warung. Untuk tempat makanan ringan kering. Seperti emping melinjo, permen, kue-kue yang mudah dilihat ditempatkan di toples itu.
Seorang dosen Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Pratiwi Wahyu Widiarti punya cerita barbar tentang lodhong di tahun 80-an. Kala itu bersama teman ditugasi dosen untuk wawancara guru salah satu SMA di Jogja.
"Sampai di rumah Pak Guru, kami wawancara dan di meja tamu kami disuguhi aneka makanan," ucap konsultan psikologi bimbel Jakarta itu.
Sambil wawancara, keduanya larak-lirik makanan yang menggiurkan dari dalam lodong. Nampak begitu jelas penampakan camilan emping melinjo ukuran jumbo. "Wah, waktu itu tidak ada kamus 'takut asam urat dan seterusnya," kata dia.
Membayangkan rasa emping melinjo lebar renyah dengan rasa manis-manis ada pahit-pahitnya. Pratiwi mempertegas, emping melinjo adalah makanan 'sultan' pada saat itu. "Pak guru nampaknya maklum, mempersilakan kami agar segera mencicipi," terangnya.
Sebagai orang Jawa yang diajarkan untuk memegang teguh prinsip unggah-ungguh, Pratiwi dan teman mahasiswa seangkatan tidak segera mengiyakan tawaran manis dari pemilik rumah. "Malu-malu dong, kok nampak rakus kalau langsung mengiyakan," bebernya.
Rupanya jadi kenyataan bunyi kutipan 'kesempatan tidak datang dua kali'. Sampai wawancara selesai, Pak Guru tak kunjung menawarkan kembali emping melinjo. Syukurlah, tidak lama berselang peluang itu kembali datang.
"Pak Guru masuk sebentar, nah ini kesempatan (ambil emping) mumpung bapak masuk ke dalam," ungkapnya. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang datang kali kedua, Pratiwi muda Cs sejenak saling pandang, tidak bertegur sapa namun sudah tahu sama tahu dan seolah kompak memberi kode anggukan kepala.
"Tangan sudah bergerilya masuk lodhong. Namun belum sempat menarik tangan dari lodhong, eh lhaaa, bapak guru masuk lagi ruang tamu. Bisa dibayangkan, wajah kami terutama saya, byar pet alias merah padam," kenangnya.
Ibarat kata lirik lagu dangdut mendiang Megi Z 'terlanjur basah ya sudah mandi sekali'. Sambil malu-malu keduanya mengambil sekeping emping keluar dari lodhongnya. (gun/laz)
Editor : Satria Pradika