RADAR JOGJA - Setelah puluhan tahun merantau, Herum Fajarwati akhirnya kembali Jogjakarta sebagai kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DIJ. Perempuan asal Seyegan, Sleman ini resmi dilantik pada April lalu.
Selepas SMA Herum, memutuskan merantau dan berkuliah ke Lampung. "Waktu itu di Lampung ada kakak, akhirnya saya ikut merantau, itu sekitar 1983," katanya Jumat (1/12).
Secara umum, Herum menyebut bahwa Sumatera jadi daerah dinas terlamanya. Dia pernah ditugaskan di Lampung, Metro, dan Tanggamus. Kemudian promosi ke Bangka Belitung, Jakarta, Gorontalo, dan kembali ke Sumatera Barat. Hingga akhirnya dia ditugaskan ke DIJ.
"Bisa dibilang setengah hidup saya di Sumatera, nggak nyangka juga akhirnya ditugaskan di kampung halaman," lontarnya.
Perempuan lulusan Fakultas Pertanian Universitas Lampung (Unila) ini mengaku, dinamika tugas di BPS secara jenis tugas relatif sama. Hanya lokasi saja yang berubah. Alih-alih kesusahan beradaptasi pada pekerjaan, justru penyesuaiannya lebih banyak di lingkungan dan budaya.
"Misal sekarang di DIJ, saya orang asli DIJ tapi saya lebih lama di lingkungan yang berbeda, jadi perlu penyesuaian juga," jelasnya.
Untuk membangun kedekatan dengan para pegawainya, Herum menyebut ada perbedaan di masing-masing daerah. Selain harus memahami budaya, dia juga harus tahu tentang karakteristik dan tipikal orang-orangnya.
Oleh karena itu, dia lebih banyak melakukan pendekatan humanis. Dengan memposisikan diri sebagai orang tua yang mendengar, mengajak ngobrol, dan berusaha hadir untuk para pegawainya
"Saya ingin punya peran mengasah, mengasih, dan mengasuh," ungkapnya.
Herum sendiri membeberkan, bahwa dia memang suka bersilaturahmi dan menambah relasi dengan siapapun. Hal tersebut diakuinya jadi hal yang lebih menyenangkan dan bermakna. Jika dibandingkan melakukan kegiatan untuk kesenangannya sendiri.
"Silaturahmi itu jadi value penting yang bermakna bagi kehidupan saya," ujarnya.
Selain hal tersebut, Herum juga berusaha menyeimbangkan kehidupannya dengan hal-hal lain. Seperti berolahraga hingga traveling. "Dua hal itu bisa dilakukan juga di sela kerja misalnya saat dinas ke luar kota atau luar pulau," lanjutnya.
Meski belum genap setahun menjabat, dia berharap bisa memberi dampak pembangunan di DIJ. Dia meyakini bahwa membangun statistik butuh peran nyata dari masyarakat. Karena jika masyarakat sudah sadar pentingnya statistik, hal itu akan mempermudah kinerja dan pengumpulan data.
"Saya punya kecintaan terhadap tanah kelahiran yang menjadi penambah semangat untuk membangun statistik di DIJ," tegasnya.
Herum turut memproyeksikan, pembangunan statistik wilayah DIJ secara umum bisa berjalan baik. Begitu pula dengan kesadaran masyarakat tentang pentingnya statistik juga bisa terus meningkat. Sehingga bisa mempercepat realisasi pembangunan menuju Indonesia emas 2045. "Semua butuh data, supaya pembangunan terarah dan bisa tepat sasaran," tandasnya. (iza/eno)