Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Representasi Makanan Kesukaan Nabi Versi Jawa

Khairul Ma'arif • Minggu, 1 Oktober 2023 | 15:25 WIB
KRT Jatiningrat (Romo Tirun).Khairul Ma
KRT Jatiningrat (Romo Tirun).Khairul Ma

 

RADAR JOGJA - Budayawan yang juga kerabat Keraton Jogja KRT Jatiningrat mengatakan, sego gurih menjadi bagian Sekaten sejak awal-awal dirayakan. Baik di dalam Keraton Jogjakarta sebagai hidangan makan ataupun di kalangan masyarakat menjadi ciri khas Sekaten yang harus dijual dan dibeli untuk dikonsumsi.


Menurutnya, sego gurih di tengah masyarakat biasanya dijual di sekitaran Masjid Gedhe Kauman saat perayaan Sekaten. "Oleh orang Jawa, makanan kesukaan nabi diwujudkan sedemikian rupa menjadi nasi gurih," katanya kepada Radar Jogja Rabu (27/9/23). Dia membandingkan, di Arab Saudi kemungkinan nasi kebuli.


Pria yang bernama asli Tirun Marwito ini menambahkan, nasi yang ada di Arab sana tentu tidak akan sama seperti di Jawa. Tetapi itu diwujudkan dengan menambahi santan dalam sego gurih. Tidak ada perbedaan nasi gurih di Sekaten dengan nasi uduk pada umumnya di luaran sana. Baik dari proses pembuatan, bumbu yang dipakai, serta lauk pauknya. Perbedaannya hanya perihal suasana konsumsinya yang khusus saat Sekaten.


Romo Tirun -demikian ia biasa disapa- menyampaikan awal mula sego gurih direpresentasikan sebagai makanan kesukaan Nabi Muhammad SAW itu sudah diyakini sejak lampau. Menurutnya, makanan di Arab dengan di Jogja berbeda. Tetapi, gambarannya oleh orang-orang di sini sejak dulu dikatakan Nabi Muhammad menyukai sego gurih. "Itu semuanya dari ulama yang menafsirkan, kemudian menjadi suatu adat terus-menerus," ucapnya.


Mantan Sekda Sleman ini membeberkan, Sekaten dipelopori oleh Kasultanan Ngayogyakarto Hadiningrat. Perayaan ini juga dimanfaatkan masyarakat untuk berdagang sego gurih untuk mendapatkan penghasilan. "Itu sudah menjadi adat. Jadi jika ada Sekaten pasti disediakan sego gurih untuk konsumsi di Keraton Jogjakarta," tuturnya.
Dia menuturkan, Sekaten itu serapan dari kata Syahadatain yang memiliki maksud mengislamkan. Pada saat itu, para ulama berkumpul mengadakan Sekaten di masjid dan alun-alun. Di masjid merupakan bagian dari ritual keagaman Sekaten, sedangkan di alun-alun sebagai perayaan.


Ingkung ayam menjadi lauk yang utama menemani sego gurih Sekaten. Hal itu karena masyarakat di Jawa, ayam itu banyak dikonsumsi berbagai kalangan masyarakat. Jika dibandingkan dengan di Arab, pastinya tidak mungkin memakai ayam sebagai lauk. Meski, Sekaten tidak ada pasar malamnya, pedagang sego gurih menjajakannya di sekitaran Masjid Gedhe.


Romo Tirun menyebut, pasar malam saat Sekaten bukanlah bagian yang pokok. Hal itu tidak lebih dari pelengkap perayaan saja. Menurutnya, yang utama adalah kegiatan di Masjid Gedhe. Namun dia menyadari jika selama ini yang paling diingat masyarakat luas malah pasar malamnya. (rul/laz)

Editor : Satria Pradika
#keraton jogjakarta #Masjid Gedhe Kauman #sego gurih #sekaten #KRT Jatiningrat