Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mengenal Heni Pujiastuti, Menantu dari KRT Sasmintadipura, Bercita-cita Ciptakan Tari Klasik Tradisional Jawa

Annissa Alfi Karin • Minggu, 24 September 2023 | 15:05 WIB

MEMBUAHKAN HASIL: Usaha Heni Pujiastuti untuk menjadi seorang senimat tari terwujud. Sempat terhalang restu orang tua, Heni terus melanjutkan pendidikannya di sekolah tari hingga perguruan tinggi.
MEMBUAHKAN HASIL: Usaha Heni Pujiastuti untuk menjadi seorang senimat tari terwujud. Sempat terhalang restu orang tua, Heni terus melanjutkan pendidikannya di sekolah tari hingga perguruan tinggi.

 

RADAR JOGJA - Aktivitas menari bukan hanya sekadar bergerak berlenggak-berlenggok bagi Heni Pujiastuti. Jauh daripada itu, menari adalah passion, keahlian, bahkan kekuatan yang membuatnya hidup sampai saat ini.

Heni merupakan salah satu seniman tari yang ulung. Ibu berusia 34 tahun ini telah mengenal seni tari lebih dari separo usianya. Kegemaran menarinya ini dia rasakan sejak kecil, bahkan sebelum TK. 

Menginjak tingkat sekolah menengah pertama, Heni masih terus menari. Saat itu dia turut didampingi guru yang juga menjadi inspirasinya."Kemudian saya tanya guru itu sekolah di mana. Kebetulan guru itu lulusan SMKI," kata Heni sembari tersenyum tipis.

 

Usai mendapati latar belakang pendidikan sang guru, Heni lantas bercita-cita untuk meneruskan pendidikan di tempat yang sama, yakni SMKI atau SMKN 1 Kasihan. Namun, keinginannya ini tak berjalan mulus begitu saja. Dia harus menghadapi restu orang tua. Ini lantaran lokasi rumahnya yang berada di Bantul perbatasan Wonosari itu jauh dari SMKI. Tentu saja, jika nekat tetap ingin bersekolah di sana Heni harus tinggal sementara di kos. "Otomatis bertemu orang tua juga jadi berkurang. Jadi waktu itu awal-awal masih nego alot. Tapi akhirnya boleh mengambil SMKI," ujar perempuan berikat rambut satu ini.

Passion menari dalam diri Heni terbilang tak terbendung lagi. Usai menamatkan pendidikan seni tari di SMKI pada 2011, dia lantas kembali melanjutkan pendidikan di UNY pada Jurusan Pendidikan Seni Tari. Tujuannya saat itu ingin mempelajari ilmu seni tari lebih dalam lagi. Sehingga bisa berbagi ilmu secara lebih profesional dan mendasar. Menurutnya ini merupakan sedikit cara untuk turut serta nguri-uri tarian tradisional Jawa agar tak hilang dimakan zaman.

 

Saat kuliah, prestasi Heni terbilang menonjol dibanding mahasiswa lainnya. Dia kerap diajak dosen untuk turut serta mengajar tari. Pengalaman tak terlupakan dia alami saat diajak mengajar tari di Australia. "Kebetulan saat saya masih kuliah ikut program kampus Indonesian Day di Australia, mengajar mahasiswa asing dan mahasiswa Indonesia yang ada di sana. Membuat suatu garapan tari lalu kita berkolaborasi dengan perawit," jelasnya.

Seni tari juga mengantarkannya bertemu dengan sang suami. Witing tresna jalaran saka kulina. Mungkin itu peribahasa yang tepat diberikan pada kisah asmara Heni dan suaminya, yang kerap disapa Alin. Suaminya ini bukanlah orang biasa, melainkan anak dari seorang maestro tari gaya klasik Ngayogyakarta, KRT Sasmintadipura.

"Dulu sewaktu saya SMKI saya diajak teman saya nonton Ramayana di sanggar. Bertemunya di sini. Kebetulan ibunya suami dulu guru saya di SMKI. Jadi, di sekolah juga sering melihat karna Mas Alin sering antar ibu ke kantor," jelasnya.

Kini, pengabdian pada seni tari diwujudkannya dengan cara mengajar. Heni bersama sang suami setiap hari mengajar tari, tepatnya di bawah naungan Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa yang berlokasi di Ndalem Pujokusuman.

Baca Juga: 1.700 Peserta Berkostum Adat Tumpah Ruah dalam Gelaran Malioboro Menari, Disiapkan Voucher Belanja

"Di sini saya mengajarkan tari Renggo Martoyo, itu adalah tarian dasar. Lalu juga mengajar tari Golek Surung Dayung yang merupakan tari tunggal putri tingkat kedua," kata perempuan yang lahir 1989 silam ini.

Ambisinya soal menari kini tak semeletup seperti dahulu. Meski jam terbangnya soal menari tak diragukan lagi, tapi dia mencoba memberi giliran pada generasi muda. Heni punya cita-cita lain, yakni menciptakan tari-tari klasik tradisional Jawa.

"Kemarin sempat membuat tarian untuk acara ulang tahun yayasan yang ke-60. Itu tarian klasik pertama yang saya buat. Saya berkeinginan untuk melanjutkan lagi mungkin untuk tarian yang lain," harapnya. (isa/eno)

Editor : Satria Pradika
#Kasihan #Lifestory #Tari Klasik Tradisional Jawa #UNY