RADAR JOGJA - Bagi pecinta kuliner pasti bukan hal asing dengan menu tradisional jadah. Di beberapa wilayah, jadah menjadi makanan khas yang populer, cocok juga sebagai oleh-oleh. Di lokasi pariwisata misalnya, menu ini biasanya banyak dijajakan kepada pengunjung.
Jadah merupakan makanan tradisional yang terbuat dari beras ketan dan kelapa parut. Namun jadah juga kerap disebut kue tradisional.
Kudapan ini dapat dinikmati begitu saja atau bisa juga direbus diberi bumbu pelezat, digoreng maupun dibakar.
Rasanya gurih. Nikmat disantap bersama tempe bacem maupun goreng. Sambil nyeruput teh anget atau kopi. Ah nikmat.
Cara membuat jadah sebetulnya tidak sulit. Namun perlu diketahui beberapa hal detail, kunci agar pembuatan jadah tidak gagal.
Supaya jadah tidak lembek atau keras.
Sumarni, 76, warga Tegalmulyo, Tumpukan, Karangdowo, Klaten, acap kali membuat jadah untuk kepentingan tradisi. Dia
membagiken resep jadah pulen.
"Ada dua cara membuat jadah, tanpa santan dan pakai santan saat perebusan," terang Sumarni, Kamis (31/8/2023).
Membuat jadah tanpa santan, biasanya digunakan hanya saat perayaan adat tradisi.
"Begini resep," kata lansia yang akrab disapa Sum itu. Lalu ia mulai menjabarkan.
Pertama, siapkan beras ketan sesuai kebutuhan. Sebelum beras dikukus, lebih dulu di rendam dengan air. Kira-kira 4-6 jam lama perendaman. Kemudian beras dicuci bersih atau dipususi. Selanjutnya, dikukus.
"Dikukus kalau orang Jawa nyebutnya dikekelne," kata ibu enam anak itu.
Sekira beras ketan sudah setengah masak, lalu diturunkan dari kompor. Dan proses pencampuran dengan parutan kelapa pun dimulai. Usahakan memilih kelapa yang sedang, tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda.
"Agar hasilnya sempurna, parutan kelapa dicampur sedikit air matang dan garam. Penambahan air ini fungsinya agar proses pengadukan ketan dan parutan kelapa lebih merata," bebernya. Sedangkan penambahan garam untuk memberikan rasa gurih.
"Kalau sudah tercampur merata beras ketan dan parutan kelapa, dikukus lagi dan taburkan daun salam di dalamnya. Agar lebih gurih," sarannya.
Kalau sudah matang atau tanak, selanjutnya adonan jadah diturunkan dan ditumbuk sampai halus.
Barulah dicetak ke dalam loyang. "Atau kalau orang zaman dulu, (adonan, Red) dimasukkan ke dalam tenggok, lalu ditumbuk pakai jojohan (penumbuk, Red) dari kayu, atau tumbuk cobek yang besar," jelasnya.
Adonan yang sudah halus dipadatkan ke loyang atau bisa juga ke dasar tenggok, lalu dicetak.
Selagi hangat, jadah dipotong kecil-kecil.
"Kalau ingin lebih nikmat jadah bisa ditempel daun pandan. Sehingga ketika digigit ada rasa pandan-pandannya. Itu jauh lebih enak," katanya.
Namun karena untuk kepentingan tradisi maka ia membuatnya simpel saja. Setelah jadi jadah siap disantap dan dibagikan.
Untuk cara kedua, pada proses pengukusan tahap pertama air kukusan dimasukkan santan. Tahap selanjutnya sama, ketan kukus setengah matang diturunkan dari kompor lalu diuleni dengan parutan kelapa.
Untuk proses berikutnya senada dengan cara yang pertama tadi. Bedanya menggunakan santan dan tidak.
"Rasanya sama-sama enak, hanya saja pakai santan teksturnya semakin pulen," bebernya.
Agar tampilan lebih menarik, jadah bisa diberikan topingan bubuk kedelai, parutan kelapa kukus, taburan gula, pandan, bubuk kacang, keju, susu dan lainnya. Agar tak kalah menarik dengan menu modern. (mel)