RADAR JOGJA - Motor merk Dampf Kraft Wagen atau lebih dikenal dengan DKW masih digandrungi kolektor motor antik hingga saat ini. Motor DKW berasal dari Jerman, diproduksi kisaran tahun 1916.
Saat itu seorang teknisi Jørgen Skafte Rasmussen awalnya hanya memproduksi steam fittings. Pada 1930-an, DKW menjadi produsen motor terbesar di dunia.
Pengajar Teknik Otomotif SMKN 2 Jogja Sumadi mengatakan, ada kebanggaan tersendiri jika seseorang mengendarai motor DKW. Motor antik dan secara tampilan unik mengandung nilai historis yang cukup tinggi.
"Kebanyakan karena nilai uniknya, nilai-nilai kelangkaannya, dan terkesan bangga dengan mengendarai motor antik dan tua tapi dalam kondisi sehat motornya," ujarnya Jumat (11/8/23).
Alumni Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) ini mengatakan, meski ada kebanggan dari segi mesin cukup sulit untuk perawatannya. Apalagi jika onderdil sudah tidak ada lagi. "Kalau kekurangannya motor antik dan tua itu onderdil sulit, bahan bakar boros. Mesin DKW kebanyakan dua tak," ujarnya.
Mesin dengan dua tak memiliki kelemahan pada emisi gas buang yang tinggi. Motor menggunakan oli samping dengan pembakaran di ruang bakar di ruang bakar. Maka menghasilkan knalpot berasap. "Knalpotnya berasap, itu polusi tinggi. Dan sebagai alasan motor 2 tak stop produksi. Karena isu warming global dan polusi tinggi," ujarnya.
Sementara dari sisi mesin awet atau tidaknya dibanding motor produksi sekarang, Sumadi menilai tergantung perawatan pemiliknya. Dan meskipun kondisi mesin dua tak seperti itu namun tetap dicari karena nilai kebanggaannya.
Seperti RX King, FIZ R dari Yamaha masih banyak dicari dengan harga yang tinggi. Karena nilai kebanggaannya mengendarai motor-motor tersebut.
"Kalau mesin awet tidaknya ya relative dari perawatan, yang jelas kalau dua tak harus rajin membersihkan ruang bakar dan exhaust manifold terhadap sisa-sisa oli samping yang terbakar," katanya.
Kebanggaan memang menjadi faktor utama kepemilikan motor antik dan tua. Sebab dari sisi bahan bakar boros, kemudian perawatan yang mahal. Kondisi itu hanya bisa dipilih bagi kolektor yang benar-benar menyukai dan mengapresiasi hal yang bersifat lawas dan ngetren di jamannya.
"Nggih (karena kebanggaan, Red), padahal dari bahan bakar sangat boros dan emisi polusi juga tinggi. Andaikan ada syarat perpanjangan STNK mensyaratkan uji emisi, bisa dipastikan motor 2 tak banyak yang tidak lolos. Sebab dunia sekarang akan bertransformasi ke mobil dan motor listrik yang zero emission," tambahnya. (lan/laz)