Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Merawat Motor Klasik Butuh Sabar karena Sering Mogok

Muhammad Hafied • Minggu, 20 Agustus 2023 | 17:30 WIB
KLASIK: Johartoyo, 40, kolektor motor klasik asal Purworejo kepincut dengan motor DKW.M.
KLASIK: Johartoyo, 40, kolektor motor klasik asal Purworejo kepincut dengan motor DKW.M.

RADAR JOGJA - Menggeluti hobi merawat motor klasik tidak dimiliki sembarang orang. Selain harus rela merogoh kocek, juga butuh modal kepercayaan diri. Belum lagi ketika terjadi kerusakan. Sang pemilik dituntut berburu onderdil yang kini bisa dibilang nyaris punah.


Seperti diungkapkan kolektor motor asal Purworejo, Johartoyo, 40. Menurutnya, motor klasik memang selalu menggoda. Ada nilai seni dan kebanggaan ketika menunggang motor di bawah tahun 80'-an. "Ibaratnya motor hampir hilang dari peredaran. Ya, merawatnya gampang-gampang susah. Tapi itu seninya. Bisa latihan sabar karena sering mogok," terangnya (11/8/23).


Dari beberapa koleksi motor lawas, ia kali pertama kepincut dengan motor buatan Jerman yang rilis sekitar tahun 1960-an. Yaitu motor Dampf Kraft Wagen atau DKW. Lebih tepatnya DKW jenis Union atau sering dikenal Hummel. Namun sayang, motor berwarna biru muda miliknya itu kini telah berpindah tangan.


"Karena pertemanan aja, ada yang naksir gitu. Biasalah sesama kolektor. Cukup berkesan juga pakai DKW," jelas warga Kelurahan Pangenrejo, Kabupaten Purworejo ini.
Pria yang akrab disapa Joe ini menilai, DKW adalah motor dengan konsep seni artistik. Selain bertenaga di kelasnya, motor ini memiliki desain cukup elegan. Artinya, enak dipandang mata. Dia pun kagum, meski pabrikan lama, motor DKW sudah dilengkapi mesin bertenaga 125 cc. "DKW itu seksinya otentik. Pernah saya pakai muter-muter buat liputan. Kalau lagi sehat, mesin bandel banget," kata wartawan salah satu televisi swasta itu.


Ia mengungkapkan, motor DKW miliknya masih dalam kondisi standar seperti bawaan. Hanya saja, beberapa onderdil sempat mengalami sedikit peremajaan. "Di poles sedikit. Sekarang cuma buat pajangan di kafe teman. Ya itu, khawatir rusak pas dipakai jalan," ungkapnya.
Lebih lanjut, kecintaan pada motor lawas mulai tumbuh sejak usia muda. Tepatnya ketika dirinya bertemu rekan yang memang tergila-gila dengan dunia motor langka. Jiwa 'bikersnya' bahkan masih menyala hingga kini memasuki usia kepala empat.
Baginya, hobi merawat motor klasik tak bisa tergantikan, meski kini digempur industri otomotif modern. "Apapun kalau namanya hobi, itu mendarah daging. Sulit dialihkan," tandasnya. (fid/laz)

Editor : Satria Pradika
#Dampf Kraft Wagen #DKW #motor #kebumen #oldies #motor klasik #Purworejo