RADAR JOGJA – Sekarang permainan asah otak TTS (Teka Teki Silang) bisa di-download dan dimainkan melalui smartphone. Kalau tak bisa jawab, tinggal ganti dengan permainan lain. Beda dengan anak-anak zaman old, menjawab sinonim dalam buku kecil TTS adalah sebuah perjuangan memeras otak dan pikiran.

Penghobi atau mantan pemain TTS Arif Syahyudi, warga, Nglanggeran, Patuk, Gunungkidul, punya kenangan tersendiri. Untuk mendapatkan buku TTS, kata dia, tidak harus beli. Cukup gerilya ke tetangga kanan-kiri, pasti ada kolom pertanyaan yang masih lowong.

“Ketika waktu senggang itu, saya pinjam dan ambil bukunya dan langsung mencoba menjawab,” kata Arif Syahyudi kepada Radar Jogja kemarin malam (15/7).

Bola matanya langsung berputar-putar mencoba mencari tahu jawaban. Mulutnya komat kamit menerka, menebak, dan menghubungkan kata demi kata tapi tak kunjung menemukan kunci jawaban. “Pantas saja kolomnya kosong, memang sulit,” ujarnya.

Kalau sudah begitu, buku TTS yang biasanya dibeli di lapak koran dengan harga murah meriah itu dilipat dan dikembalikan ke pemiliknya. Arif lalu mengolak-alik tumpukan buku tebal lain di atas meja. “Saya yakin pasti tidak hanya satu buku TTS-nya,” ucapnya.

Biasanya seseorang yang hobi menjawab teka teki pasti beli bukunya lebih dari satu. Meski cukup sering gagal menjawab TTS, baginya itu sebuah permainan menghibur dan bisa membuat pintar. “Kalau tak bisa jawab, minta bantuan warga sekampung,” kelakarnya.

Hal lain yang dikenang dari buku TSS, menurutnya, sampul depan atau cover bergambar foto artis. Sama seperti generasi jadul pada umumnya, foto itu digunting untuk dijadikan poster. Orang zaman dulu biasanya mengoleksi foto-foto artis dari halaman depan (cover) buku TTS. “Kan zaman dulu tidak seperti sekarang. Dulu memasang foto artis idola di tembok terasa keren,” bebernya.

Sementara itu, Sutanto warga Wareng, Wonosari, mengatakan, mengisi buku TTS menjadi hiburan tersendiri. Selain mengisi waktu luang, menjawab TTS juga bisa mengasah kemampuan otak. “Terhibur karena buku TTS ada foto artis seperti Agnes Monica, Luna Naya, dan Dian Satro,” katanya.

Berbeda dengan Arif yang mengisi buku TTS tak mau modal, Sutanto mengaku rajin beli di emperan pasar tradisional. Sekali beli tidak hanya satu tapi bisa dua atau empat sekaligus. Dia mengaku tidak ingat harganya berapa, tapi terjangkau. “Memang ke pasar dari rumah tidak berniat beli, tapi begitu melihat langsung keluarkan isi dompet,” ujarnya. (gun/laz)

Weekend