RADAR JOGJA – Objek wisata yang berjarak sekitar empat kilometer dari Candi Borobudur ini menawarkan keindahan panorama alam nan menakjubkan. Hamparan pepohonan hijau bergerombol membuat siapapun yang memandang akan terasa sejuk dan damai.

Namanya Punthuk Setumbu. Adalah bukit yang terletak di Dusun Kurahan, Karangrejo, Borobudur, Kabupaten Magelang. Tepatnya berada di belakang Candi Borobudur. Penamaan objek wisata itu disesuaikan dengan posisi bukit atau punthuk yang berbentuk bulat. Namun, seiring berjalannya waktu, bukit itu perlahan mulai tergerus lantaran longsor.

Sementara nama setumbu dalam istilah Jawa berarti tempat lumbung padi. Nama itu diambil berdasarkan cerita nenek moyang setempat. Konon katanya, sewaktu peperangan Gerilya yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro, bukit itu menjadi tempat singgah bagi para gerilyawan daerah Borobudur untuk makan.

Para gerilyawan yang bertempat di pegunungan Menoreh, kerap singgah di Punthuk Setumbu sembari mengintai pergerakan musuh dari pihak Belanda. “Cerita-cerita itu kemudian dipercaya oleh masyarakat sekitar dan menyebut bukit itu sebagai Punthuk Setumbu,” ujar Nuryazid, ketua pengelola Punthuk saat ditemui Jumat (10/6).

Awalnya, Punthuk Setumbu hanya berupa ladang untuk bercocok tanam masyarakat setempat. Banyak para pengembala kambing dan sapi berada di sana. Pada 2000-an, Candi Borobudur mulai ramai dikunjungi wisatawan. Sedangkan desa wisata yang pertama kali ada adalah Desa Candirejo. Masyarakat Desa Karangrejo lantas berpikir agar wisatawan juga ikut berkunjung ke desanya. “Kami coba nyari ilmu ke sana, bagaimana supaya ada tamu datang ke sini setelah di Candi Borobudur,” paparnya.

Satu upayanya adalah dengan mengangkat kegiatan masyarakat yang dinilai sakral. Setiap Senin Legi, sebagai wujud rasa syukur, masyarakat setempat membawa ketupat dan baceman. Lalu dibawa ke atas bukit untuk dimakan bersama. Kegiatan itu didukung penuh oleh masyarakat setempat dan para tokoh budaya.

Pada 2006, masyarakat Dusun Kurahan lantas menggelar sedekah bumi. Mereka juga mendatangkan para wartawan untuk meliput kegiatan tersebut sekaligus mempromosikan Punthuk Setumbu.

Pada 2010, ada seorang fotografer daerah Borobudur yang ingin melihat Punthuk Setumbu dan kemudian memotret view dari atas bukit. Lalu, yang bersangkutan memberitahu kepada rekan-rekan dan komunitasnya. Keindahannya pun membuat takjub dan mengundang rasa penasaran publik untuk menyaksikan secara langsung fenomena alam tersebut.

Selain itu, sang fotografer juga mengikuti ajang lomba fotografi. Beruntung, dia dapat memenangkan lomba. Dari situlah, banyak yang menanyakan lokasi tersebut. Bahkan, PT TWC Borobudur juga ikut mempromosikan Punthuk Setumbu dengan wisatawan mancanegara (wisman). Pada 2013 dan 2014, banyak wisman yang berbondong-bondong ke sana.

Puntuk Setumbu dinilai menjadi lokasi terbaik untuk melihat sunrise. Tidak heran, lokasi wisata ini selalu ramai dikunjungi wisatawan lokal, asing, maupun para fotografer. Tentunya untuk memburu spot menarik yang menjadi fenomena alam dan incaran bagi para pecinta alam.

Untuk sampai ke puncak bukit, pengunjung harus naik sejauh 350 meter dalam waktu tempuh kurang lebih 10-15 menit dari loket penjualan tiket. Untuk itu, pengunjung diminta mempersiapkan kondisi fisik lantaran medan perjalanan yang menanjak. Jika di tengah perjalanan merasa kelelahan, banyak warung-warung yang dapat digunakan untuk melepas lelah. Warung itu juga menyediakan berbagai makanan dan minuman.

Saat cuaca cerah, Gunung Merapi dan Gunung Merbabu akan terlihat jelas dari Punthuk Setumbu. Saat fajar tiba, matahari akan muncul di antara dua gunung. Menjadi sebuah fenomena alam yang indah dan luar biasa. Cahaya kuning keemasan perlahan akan muncul tepat di tengah-tengah.

Tidak hanya itu, dapat pula dilihat megahnya Candi Borobudur. Saat pagi, kabut yang menyelimuti candi akan perlahan memudar seiring dengan terbitnya matahari. Saat itulah, Candi Borodubur seolah muncul dari dalam kabut. Bias cahaya matahari pagi menyinari candi yang masih berselimut kabut tipis, menyuguhkan pemandangan eksotis dan cenderung terasa mistis. Selain itu, juga tampak Gereja Ayam yang menjadi lokasi syuting film Ada Apa Dengan Cinta (AADC) 2.

Nuryazid menuturkan, masyarakat sangat menerima keberadaan Punthuk Setumbu. Karena diakuinya, perekonomian mereka juga ikut naik. Punthuk Setumbu juga terus berbenah untuk menyuguhkan spot wisata yang nyaman dan memuaskan. Seperti rencana penambahan jalur alternatif bagi pengunjung. Agar antara parkir dengan puncak, tidak terlalu jauh. Untuk menikmati puncak Punthuk Setumbu, wisatawan lokal bisa merogoh kocek sebesar Rp 20 ribu dan wisman Rp 50 ribu.

Selain pemandangan sunrise, Punthuk Setumbu juga menyuguhkan spot swafoto dengan latar pemandangan alam yang masih asri. Berupa hamparan pepohonan hijau serta pemandangan pegunungan Menoreh di sisi Selatan.

Saat terbaik untuk menikmati matahari terbit dari Punthuk Setumbu adalah pada bulan Juni hingga Agustus. Atau saat musim kemarau. Pada bulan-bulan tersebut, cuaca akan lebih cerah dan jalur menuju puncak bukit tidak licin. Selain itu, dibutuhkan alas kaki yang nyaman dan baju hangat lantaran udaranya cukup dingin. (aya/eno)

Weekend