RADAR JOGJA – Permainan boi-boinan sudah lama dikenal di Indonesia. Bahkan dari hasil kajian Badan Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Jogjakarta, permainan tradisional ini telah berusia ratusan tahun dan penyebarannya pun hampir di seluruh Nusantara. Namun di beberapa daerah, permainan yang mengandalkan pecahan genting dan bola itu dikenal dengan nama berbeda-beda.
Pamong Budaya Ahli Muda BPNB Jogjakarta Ani Larasati mengatakan, di wilayah Jogjakarta sendiri permainan ini memang akrab dikenal sebagai boi-boinan. Tetapi di daerah lain seperti Semarang, dikenal dengan nama dinoboy. Ada pula yang menyebutnya sebagai sirah pentil.
Dikatakan Aan, sapaan akrabnya, ia tidak tahu persis sudah sejak kapan boi-boinan lahir dan tumbuh di Indonesia. Namun kemungkinan permainan tradisional ini sudah ada sejak ratusan tahun lalu karena hampir dikenal oleh semua generasi dan mungkin diwariskan secara turun-temurun.

Terkait dengan asal muasal permainan itu, dari hasil kajian BPNB ada beberapa literatur yang mengatakan boi-boinan dibawa oleh bangsa Tiongkok yang kemudian dikenal dengan nama cina boy di wilayah Jawa Timur. Namun di Jawa Barat oleh bangsa Sunda, permainan itu dikenal dengan nama boi-boian karena sering dimainkan oleh anak laki-laki. Diketahui, penyebaran permainan tradisional itu juga sampai di Kalimantan dan pulau lainnya.
“Tetapi cara permainan di tiap daerah sama, dimainkan oleh dua kelompok dengan saling melemparkan sebuah benda ke tumpukan pecahan genting atau kereweng lalu ditata kembali. Untuk kelompok yang kalah, nantinya akan diberi hukuman yakni menggendong kelompok lawannya,” tambah Aan ketika saat dihubungi Radar Jogja melalui zoom meeting, Jumat (14/1).
Aan menambahkan, di samping sejarahnya yang cukup unik, permainan boi-boinan ternyata juga memiliki manfaat yang besar bagi perkembangan saraf anak. Sebab, dalam permainan boi-boinan anak akan dilatih menyusun kereweng secara bertumpuk membentuk sebuah piramida, di mana hal itu bagus untuk melatih motorik halus anak.
Setelah itu, aktivitas melempar bola, berlari, sampai ke gendong-gendongan merupakan kegiatan yang luar biasa untuk melatih motorik kasar anak. “Semuanya dilatihkan pada anak-anak dalam bentuk permainan yang menyenangkan,” terang Aan.
Sementara itu, Kasubag Tata Usaha BPNB Jogjakarta Ernawati Purwaningsih menambahkan, meski boi-boinan merupakan salah satu permainan tradisional yang menyenangkan dan memiliki manfaat besar bagi anak-anak, sayangnya di zaman seperti saat ini permainan itu sudah jarang dimainkan. Penyebabnya pun banyak, mulai perkembangan teknologi sampai semakin minimnya tempat untuk bermain. “Sehingga, perlu upaya pelestarian permainan tradisional ini,” ujar Erna. (inu/laz)

Weekend