RADAR JOGJA – Asdrafi berdiri sejak 1950-an. Ibu yang telah melahirkan sederet seniman tersohor seperti Teguh Karya, Arifin C Noer, Putu Wijaya, WS Rendra, Anwar AN, dan Amri Yahya.

Radar Jogja berkesempatan menyambangi kampus Asdrafi di Kadipaten, Kraton, Kota Jogja. Ternyata aktivitas kesenian tidak berhenti. Lalu lalang pemuda di bagian pendapa. Melakukan proses perekaman sebuah dokumentasi.

Kedatangan ini disambut langsung oleh tiga orang alumni Asdrafi. Mereka adalah Siti Nikandaru Chairina (Rina), Mahmoud Elqadrie, dan Khocil Birawa. Membagi kisah, kenangan perempuan yang kini menjabat Ketua GRK Asdrafi jatuh pada momen masa kanak-kanak. Kala Asdrafi masih menjadi tanggung jawab ayahnya.

Rina kecil kerap menyaksikan latihan drama, utamanya ketika ada drama bertema anak. Perempuan yang kini berusia 58 tahun itu, dulu selalu siap dan hafal jam latihan. “Saat properti selesai dipakai, akan saya pakai bersama teman-teman,” ingatnya bahagia (22/12).

Sangking akrabnya dengan latihan, nenek satu cucu ini bahkan pernah dilibatkan dalam sebuah pementasan. Padahal saat itu, Rina masih duduk di bangku SMP. “Saya terlibat pertama saat drama Mawar Hitam. Sebagai figuran yang berjajar,” kenangnya merasa lucu sendiri. Sebentar kemudian, ibu dua anak itu berpamitan untuk mengikuti pementasan.

Sementara Mahmoud mengaku masuk Asdrafi di saat kampus mulai goyah. Usia Mahmoud kala itu sudah 23 tahun. Beberapa tulisannya telah terpublikasi di koran. “Tapi saya mendengar Asdrafi sudah lama sekali, tahu dari bukunya ARM Harimawan, Dramaturgi,” bebernya.

Dalam ketergodaan itu, desas-desus keruntuhan Asdrafi diibaratkan sebagai benteng runtuh. “Romo Benu berpesan, saya datang ke sini untuk berkreasi, bukan rekreasi,” ujarnya.
Kesempatan menimba ilmu di Asdrafi nyatanya memberi energi positif bagi Mahmoud. Pria yang saat ini menjabat Sekjen GRK Asdrafi ini merasa telah menemukan tempat yang tepat. “Seniman membutuhkan energi di ruang mana dia merasa tepat. Kebetulan di sini saya merasa tepat,” ucapnya.

Bincang penutup, Khocil Birawa yang menemani. Baginya, Asdrafi adalah pembuka jalan dirinya menemukan jati diri sebagai seniman. Setelah runtang runtung semasa SMA pada akhir 1970-an. “Saya Asdrafi angkatan 1980-an. Mulai mengenal kesenian dari sini. (Pemikirannya, Red) terbuka bahwa ada kesenian,” beber pria 63 tahun itu.

Kochil mengaku hanya sekitar 1,5 tahun mengenyam pendidikan akademis di Asdrafi. Tapi kampusnya ini telah memberi ruang untuk berkiprah, berkumpul, berkreasi, bertengkar, dan berkarya bersama. “Setiap saya berbuat kesenian, saya ditanya. Pintu masuk saya adalah Asdrafi,” tambahnya.

Asdrafi pula yang mempertemukan Khocil dengan sutradara kawakan Arifin C Noer dalam projek film Serangan Fajar. Arifin butuh pemain saat itu. Sebab film kolosal buatannya membutuhkan ratusan pemain pada 1982.

“Asdrafi dikenal sebagai kantong pemain, karena alumninya sudah banyak terjun ke dunia film. Sehingga bila ada pembuatan film di Jogja, Asdrafi jadi jujugan pemain. Di situ saya banyak bergaul dengan film maker. Saya membangun rezeki semakin banyak,” paparnya. (fat/laz)

Weekend