RADAR JOGJA – Wiwitan merupakan salah satu budaya masyarakat untuk menyambut musim tanam atau panen yang masih bertahan hingga kini. Dari kacamata Joko Mursito yang juga kepala Dinas Pariwisata Kulonprogo, tradisi ini punya potensi wisata yang cukup menarik minat wisatawan untuk datang ke desa wisata.

Joko mengatakan, wiwitan sendiri berasal dari kata wiwit yang berarti memulai sesuatu. Dalam penerapannya di masyarakat, wiwitan merupakan upacara untuk memulai masa panen maupun masa tanam pada lahan pertanian yang ada di sebuah desa.

Untuk bentuk kegiatannya sendiri bisa berupa upacara ritual persembahan dengan menyajikan makanan atau hasil bumi. Persembahan biasanya dibentuk menjadi sebuah gunungan dengan komposisi bahan berupa nasi gurih, ingkung ayam kampung, sayuran hingga buah-buahan.

“Dalam wiwitan isinya memohon kepada Yang Maha Kuasa agar tanaman yang ditanam bisa tumbuh berkembang baik dan panen yang dihasilkan bisa melimpah dan berkah. Kalau dulu, hal-hal seperti ini masih dipegang erat, tetapi oleh anak muda sekarang mulai ditinggalkan. Untuk itu, tradisi ini harus kita perhatikan dan lestarikan,” ujar Joko kepada Radar Jogja (26/11).

Dari sudut pandang pariwisata, Joko menyatakan wiwitan memiliki potensi pariwisata yang cukup bagus. Sebab, upacara tersebut merupakan salah satu tradisi dan budaya khas masyarakat Jogjakarta yang bisa dikemas jadi daya tarik wisata.

Ia mengungkapkan wiwitan juga bisa menjadi salah satu potensi pada bidang wahana wisata di desa wisata di Kulonprogo. Sehingga ketika wisatawan berkunjung tidak hanya sekadar datang ke desa wisata, namun hadir dan ikut merasakan bagaimana terlibat dalam tradisi ini.

Lebih dari itu, Joko juga berharap agar tradisi wiwitan nantinya bisa terus dikembangkan dan dilestarikan. Sebab, karena perkembangan zaman seperti saat ini, salah satu upacara adat khas Jogjakarta itu lambat laun mulai ditinggalkan. (inu/laz)

Weekend