RADAR JOGJA – Wiwitan berasal dari kata kata wiwit. Dalam Bahasa Jawa, artinya mulai. Secara umum, wiwitan dapat diartikan sebagai ritual sebelum melakukan suatu hajat atau kegiatan.

Dalam tradisi Jawa, wiwitan mirip dengan selamatan. Sebab menggunakan ritual doa. Hanya saja wiwitan dikhususkan untuk ritual sebelum memetik padi pertama di awal panen.

“Sebetulnya hampir semua orang memulai sesuatu dengan berdoa. Tidak ujug-ujug waton panen,” sebut Guru Besar Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada Prof Drs Heddy Shri Ahimsa-Putra MA, M.Phil, Ph.D saat dihubungi Radar Jogja (24/11).

Oleh sebab itu, untuk meniti awal mula dilakukannya wiwitan tidak dapat diketahui. Sejak kehidupan manusia, ritual semacam doa telah dilakukan. Jadi wiwitan itu tradisi yang ada di masyarakat pertanian. Sebelum bertani, manusia awalnya berburu dan meramu. Sejak itu, mereka sudah melakukan ritual sebelum beraktivitas. Supaya hasil buruannya banyak dan baik.

“Saat beralih ke pertanian, upacara itu ditransformasi ke pertanian. Jadi kalau ditanya sejak kapan ada wiwitan, mungkin sejak awal adanya manusia atau pertanian itu sendiri,” jabarnya.

Sementara tujuan dari wiwitan bisa bermacam-macam. Melihat masyarakat tradisional yang awalnya belum mengenal agama, dimungkinkan wiwitan bertujuan sebagai suatu izin. “Karena pada masyarakat pertanian dan belum terpengaruh industri besar, memandang lingkungan, seperti pohon dan buah-buahan itu ya makhluk hidup. Tidak bisa seenaknya diperlakukan. Maka ketika akan panen, ya minta izin dulu,” jelasnya.

Tapi, wiwitan juga dapat berfungsi sebagai sistem pertanian. Sebab padi yang biasanya dipotong pertama adalah batang dengan bulir terbaik. Hasil petikan dalam wiwitan itu kemudian disimpan di sentong. Tujuannya untuk dijadikan benih periode berikutnya. “Jadi wiwitan itu memetik yang terbaik dulu. Untuk disimpan di sentong tengah atau pasren tempatnya Dewi Sri. Kalau yang paling bagus sudah diambil, lainnya bisa dikonsumsi,” bebernya.

Dapat dikatakan pula, wiwitan adalah cara dari petani tradisional. Dalam menyeleksi bibit padi terbaik. “Wiwitan juga bisa dimaknai sebagai seleksi bibit paling bagus,” cetusnya. Namun, hal itu kini bergeser. Sudah jarang ditemukan petani yang menggunakan bibit padi dari sawahnya sendiri. “Karena bibit unggul di mana-mana dan makna wiwitan berubah. Mencari bibit unggul bisa beli di toko,” tambahnya.

Kendati begitu, pria 67 ini menyebut wiwitan pentingnya untuk dilestarikan. Karena dalam wiwitan bukan hanya sekadar ritual. Tapi juga memuat rasa integrasi sosial. “Saat wiwitan, masyarakat membawa makanan ke sawah, kemudian mereka saling berbagi. Ini memperkokoh integrasi sosial. Ketika ada terintegrasi, kerja sama akan menjadi lebih mudah. Mengatasi permasalahan juga lebih mudah. Ada fungsi sosial yang sulit tergantikan,” tuturnya.

Semangat untuk datang wiwitan menunjukkan adanya reinterpretasi. Jadi meskipun masyarakat dewasa ini mungkin tidak begitu percaya Dewi Sri. Bahkan, doa yang sekarang digunakan sudah membaurkan doa dari agama-agama besar. Supaya tidak bertentangan dengan ajaran agama. “Kedua, bisa menjadi atraksi wisata. Ketiga, bisa jadi sarana integrasi sosial. Sehingga perlu dipertahankan,” tandasnya. (fat/laz)

Weekend