RADAR JOGJA – Pole dance dikenal dengan tarian tiang. Diperkenalkan sejak 1986. Dalam film Barat, acap kali pole dance dilakukan oleh perempuan berpakaian seksi. Menari dan meliuk-liukkan tubuhnya di antara tiang. Beratraksi mengangkat seluruh tubuh dengan tangan bertumpu pada tiang.

Pole dance saat ini sudah populer di beberapa negara, termasuk Indonesia. Gerakan pole dance sendiri merupakan perpaduan olahraga dengan tarian. Pole dance mulai digandrungi generasi milenial Indonesia. Dinilai ampuh untuk membentuk otot dan membakar lemak.

Seperti halnya Fierra Nabella. Perempuan muda usia 22 ini mulai menekuni dan menjadikan pole dance sebagai hobi. Saat ditemui Radar Jogja, Fierra sedang berada di Studio Pole Fit Jogja. Dia berlatih pole dance bersama instrukturnya, Intan Permata.

Fierra mengaku tertarik dengan pole dance sejak lama. Pada 2020, dia mendapat kesempatan belajar pole dance di Jakarta. Itu pun hanya lima kali pertemuan dan terhenti karena harus pindah ke Magelang.

“Baru sebulan ini nyoba lagi. Karena pole dance ini kan masih jarang ya, baru nemu lagi di Jogja,” ungkap perempuan cantik yang berdomisili di Magelang saat ditemui Rabu sore (17/11). Demi hobinya itu, dia rela bolak balik Jogja-Magelang seminggu sekali.

“Yang membuat saya tertarik, olahraga ini kombinasi antara kekuatan, kelenturan, kecerdikan, dan melatih fokus,” ungkap perempuan berdarah Jakarta itu.

Dia pun mempraktikkan gerakan-gerakan dasar pole dance yang dipelajari. Ada gerakan memutar (pirouette) dengan posisi tangan terjulur ke atas memegang tiang. Dengan kaki berjinjit sambil memutar pinggul perlahan menjauhi tiang. Kemudian gerakan menurun (dip turn). Posisi tangan sama sebelumnya, tetapi memosisikan dada sejajar dengan tiang. Buka kaki lebar-lebar.

Ada putaran belakang (back spin). Gerakan memutar tiang dengan posisi satu tangan sejajar dengan kepala. Satu tangan lainnya menjulur lebih tinggi. Lalu, badan diangkat perlahan. Badan memutar seakan melayang di udara. Perlahan lutut kaki ditengkuk membentuk ‘L’.

Terakhir, gerakan fan kick. Posisi tangan masih sama dengan gerakan back spin. Sembari memutar pada tiang, perlahan kaki diangkat membentuk huruf ‘h’. Lalu satu kaki terangkat ke atas membentuk gerakan kipas dengan posisi kaki seperti menendang.

Variasi gerakan lainnya yang juga dia dilakukan yaitu pole sit. Sikap duduk melayang, tangan bertumpu pada pole. Lalu juga split on pole, lady garden dan tornado. Merupakan gerakan kombinasi bagian dari koreografi. “Gerakannya juga sesuai lagu atau musik yang diputar,” katanya.

Disebutkan, untuk mempelajari gerakan ini dibutuhkan kekuatan ekstra. Artinya, dilakukan oleh orang yang menyukai olahraga. “Tidak semudah yang kita bayangkan. Fokus hilang dikit, bisa jatuh. Keliru gerakan, bisa cedera. Alhamdulillah selama ini saya belum pernah cedera, tapi kalau jatuh awal-awal sering,” ungkapnya.

Meski demikan dia tak pantang menyerah menaklukan pole. Adapun manfaat yang dia rasakan setelah menekuni pole ini, otot-otot tubuhnya mulai terbentuk. Selain menyehatkan, dapat melatih fokus dan keseimbangan. “Manfaat lainnya sih lebih ke kecantikan ya. Menambah percaya diri,” tekannya.

Instruktur Pole Dance Pole Fit Jogja Intan Permata menjelaskan, pole dance merupakan olahraga yang kaku. Seperti halnya olah raga angkat beban. Bedanya, bebannya ada pada tubuh itu sendiri. Setiap gerakan, otot harus squish (meremas). “Tangan, pinggul, paha, punggung, lengan, bahkan perut harus aktif ototnya. Harus squish, nggak boleh menye-menye,” ungkap perempuan 29 tahun ini.

Pole terbilang olahraga yang praktis. Membutukan media besi. Tidak memerlukan ruangan yang luas. Olahraga ini dapat dilakukan di dalam ruangan maupun di alam terbuka menggunakan pole portable. Dapat dilakukan kapan pun. “Ada beragam jenis pole. Mulai dari tinggi dan peruntukannya,” beber perempuan asal Tamansari, Jogja, ini.

Dijelaskan, di Indonesia pole umumnya memiliki tinggi sekitar tiga meter. Tetapi di luar negeri tidak terbatas. Berdasarkan kebutuhan seseorang. Kemudian jenis pole tidak sama. Menyesuaikan sensitivitas kulit. Umumnya lapisan pole terbuat dari besi, nikel, dan ada pula karet. Pole berbahan karet, diperuntukkan bagi mereka yang berhijab.

“Misalnya pole ini. Ini menyesuaikan kebutuhan kulit saya yang banyak berkeringat. Ini dan pole yang tengah itu, fungsinya berbeda. Yang tengah untuk hijab,” katanya. Lapisan pole bervariatif, sehingga ketika digunakan untuk kulit sensitif tidak menimbulkan iritasi.

Gerakan pole dance ini juga sangat bergantung pada sentuhan kulit langsung. Maka dari itu, olahraga ini cenderung menggunakan pakaian minim. Yang kadang kala masih menimbulkan stigma negatif. “Apalagi di Indonesia ini, ya stigma negatif itu masih tinggi,” katanya.

Tahapan pelatihan gerakan pole dance meliputi begginer, intermediate, dan advance. Gerakan hampir sama, semua harus squish. Perbedaanya harus move, letak tangan, dan kaki. Kelenturan bahunya bagaimana split on pole dan kombinasi lainnya.

Gerakan awal dari dari bawah (statik) dibenarkan dulu posisinya. Lalu naik latihan spinning. Terakhir combo, gerakan apa pun disesuaikan dengan musik. “Musiknya cenderung slow, misalnya instrument piano dan lainnya. Bukan yang berirama cepat,” ujarnya.

Kendati demikian, sebelum memulai gerakan pole dance, lebih dulu dilakukan pemanasan sebagai peregangan otot. “Hampir sama dengan olahraga lainnya sih. Butuh gerakan pemanasan, inti, dan pendinginan,” tandas Intan. (mel/laz)

Weekend