LRADAR JOGJA – Personal computer (PC) telah berkembang pesat saat ini. Para produsen dari hardware komputer pun berlomba-lomba untuk memberikan kinerja yang berlebih kepada pemakai PC, terutama para gamer.

Segala aspek PC selalu ditingkatkan kecepatannya agar menghasilkan kinerja yang semakin tinggi. Tak heran para pemakai PC rela merogoh kocek yang lebih dalam lagi, agar spesifikasi PC-nya bisa lebih tinggi untuk menyesuaikan kebutuhan.

Tren meningkatkan spek atau memodifikasi PC ini pun melahirkan para teknisi-teknisi autodidak. Meski tak sedikit yang mempercayakan kepada teknisi profesional untuk memasang atau mengganti komponen yang diinginkan.
Seperti halnya bagi Dodi Kurniawan, 22, yang kesehariannya memang tak pernah lepas dari komputer. Bisa dibilang sudah menjadi makanan sehari-hari. Ya, sejak kecil ia suka bermain dengan komputer.

Kepiawaiannya mengotak-atik komputer ia lakoni saat masih duduk di bangku SMK kelas 10. Terlebih ia memilih masuk jurusan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ). Jadi, segala yang berhubungan dengan komputer sudah tidak asing lagi baginya.

Namun ketika kelas 11 dan 12 ia mengaku tak lagi mendalami terkait perakitan komputer. Hanya pada teori dan jaringannya saja. Kemudian tahun 2017 mulai merantau dan bekerja di Star Computer, Cawang RT 06/RW 05, Bulurejo, Mertoyudan, Magelang.

Dari sanalah ia kembali berkecimpung di dunia perakitan komputer. “Awal kerja masih kagok, karena dua tahun tidak pegang komputer,” jelas Dodi saat ditemui Radar Jogja, Kamis (11/11).

Meskipun sempat mandek dua tahun, tekadnya untuk bekerja sudah bulat. Menurutnya, akan percuma jika sudah sekolah di jurusan TKJ, namun tidak bisa mengimplementasikannya secara langsung. Lebih tepatnya, ia mencari pekerjaan yang pas sesuai bidang keahliannya.

Mau tidak mau ia harus kembali mendalami perakitan komputer. Jadi ia merakit komputer secara autodidak. Dibimbing langsung oleh senior maupun melihat tutorial dari Youtube. Pasalnya, untuk merakit atau memodifikasi komputer, langkahnya harus urut. Tidak serta-merta dipasang beberapa alat tanpa panduan khusus. “Cara perakitannya juga harus benar. Kalau salah, nanti bongkar lagi,” ujarnya.

Ia juga terbiasa mengidentifikasi kerusakan komputer. Mulai dari RAM, pore-supply yang terbakar atau rusak, hardisk bad-sector, maupun motherboard-nya. Sejauh ini, ia tidak mengalami kesulitan untuk merakit komputer. Menurutnya, yang sulit ada pada bagian shoftware-nya.

“Kalau komputernya tidak nyala, yang rusak RAM-nya. Hanya bongkar slot RAM-nya kemudian diambil lalu dipasang lagi atau dipindah slot yang lain,” jelas Dodi.

Untuk merakit komputer, ia biasanya membutuhkan waktu paling lama seminggu. Tergantung bagian yang akan diganti. Untuk mendeteksi kerusakan pun, sudah ada kodenya. Dodi sering menyelesaikan rangkaian komputernya mulai dari memasang prossesor chip hingga mengatur jalur kabel di dalam casing-nya. “Yang kesulitan sewaktu merakit motherboard-nya. Biasanya lama.

Karena chip set-nya kecil,” tutur pria yang juga penyuka motor itu.
Saat memodifikasi komputer pun, Dodi mengatakan harus sesuai dengan keinginan pelanggan. Ia juga sering mendapat komplain. Pasalnya, apa yang sudah dikerjakan, kadang tidak sesuai dengan kemauan dari pelanggan. Jadi, ia harus legawa untuk mendengar keluhan-keluhan tersebut.

Biasanya, ia akan memodifikasi dari segi casing-nya. Diganti dengan yang lebih menarik. Terutama komputer jadul yang harus di-upgrade. “Diganti model gammers. Look-nya akan terlihat lebih bagus. Di dalam komputernya bisa diberi watercool agar pendinginannya maksimal,” jelas Dodi.

Ia mengutarakan keinginannya untuk membuka tempat servis komputer di tanah kelahirannya sendiri, Wonosobo. Namun, karena modalnya belum tercukupi, ia harus lebih giat untuk mencari pundi-pundi rupiah. Agar cita-citanya dapat tercapai. (cr1/laz)

Weekend