RADAR JOGJA – Salah satu kebiasaan semasa sekolah adalah menulis buku diary. Terutama bagi para perempuan. Menuliskan isi hatinya di dalam buku diary seolah menjadi sesuatu yang menyenangkan. Seseorang dapat menceritakan apa pun di dalam buku tersebut tanpa takut ada yang menghakimi.

Seiring berjalannya waktu, kebiasaan ini hilang ketika dewasa. Terlebih mereka yang lahir pada era digital. Kegiatan menulis diary seolah menjadi hal yang sudah ketinggalan zaman. Namun berbeda dengan Siti Marfuah.
Fuah, sapaan akrabnya, sudah tidak asing lagi dengan buku diary. Ia kerap menuangkan isi hatinya lewat buku tersebut. Efek menulis diary untuk dirinya sangatlah besar. Terutama untuk mentalnya.

Ia mulai menulis diary sejak duduk di bangku kelas empat SD. Kebiasaan itu berawal dari kecintaannya terhadap sastra. Puisi dan cerpen. “Dari SD memang suka nulis, suka baca puisi sama cerpen juga. Terus akhirnya nulis diary,” tuturnya saat ditemuI Kamis (4/11).

Perempuan kelahiran 1 November 2000 ini merasa lebih nyaman untuk menulis apa pun di buku diarynya. Pasalnya, ia tidak bisa mengungkapkan apa yang dirasakan kepada orang lain. Entah itu marah, senang, atau pun rindu.
Kegiatannya menulis diary berlanjut hingga SMP. Bahkan lebih intens. “Kalau pas SMP, kayak lagi kesel sama seseorang atau lagi happy karena sesuatu. Waktu itu pernah, lagi gedeg sama teman, ya aku tulis,” ungkapnya.

Fuah mengatakan, ia memang tidak setiap hari menulis di buku diary. Hanya pada kejadian atau perasaan tertentu. Terutama saat ia tidak bisa mengontrol perasaannya. Tak jarang juga, ia menceritakan pencapaian-pencapaian kecilnya.

Selain itu, setiap perayaan hari kelahiran ataupun tahun baru, ia akan menuliskan target yang akan dicapai. Ia tuangkan semua yang dialami melalui tulisan. “Ada part di mana aku mengapresiasi diriku sendiri juga,” kata Fuah.

Saat SMA, ia sempat mandek. Bukan curhatan mengenai kesehariannya, tapi hanya berupa potongan quotes. Kebiasaan menulis diary itu justru membentuk polanya untuk menyusun konsep puisi ataupun cerpen hingga sekarang. Terlebih ketika emosi.

Kadang, kalimat yang ia tulis layaknya puisi. Tidak teratur. Asal menulis. Karena menurutnya, menulis buku harian itu bebas. Tidak ditentukan gaya bahasa dan bentuknya.

Menulis di buku diary bagi Fuah adalah kegiatan yang menyenangkan. Namun, karena itu ia tidak bisa menjelaskan apa yang ia rasakan kepada orang lain. Ia juga mengakui dirinya adalah pribadi yang tertutup. Bisa dikatakan sebagai introvert.

Ia mengaku sudah menjadi makanan sehari-hari dinilai sebagai introvert. “Pernah ada yang bilang ‘soalnya Fuah itu introvert’. Seakan-akan introvert adalah hal yang salah,” ujarnya.

Dengan penilaian orang tersebut, ia mengaku tidak terima. Tidak suka dibilang introvert. Tapi, lambat laun, lewat cerita yang ia tuangkan ke buku diary-nya, ia jadi lebih mengenal dirinya sendiri. “Jadi berpikir, oh iya, aku memang tipe introvert dan ini nggak salah kok,” jelas Fuah.

Jadi, dengan tulisan di buku diary-nya, ia dapat mengolah perasaan dan pertanyaan-pertanyaan yang bersarang di kepalanya. Ia lebih menyukai suasana yang tenang. Ketika ia merasa jenuh, ia akan menepi.

Fuah punya waktu waktu di mana hanya ada dia dan diary-nya. Setelah dirasa perasaannya membaik, ia akan berbaur dengan orang lain. “Jadi PR juga. Kadang energinya menipis, tapi masih harus berinteraksi dengan banyak orang. Apalagi kalau hanya sekadar basa-basi,” katanya.

Menurutnya, tidak semua paham apa yang ia rasakan. Jika ia diam, itu tandanya ingin sendiri. Banyak pula yang salah tafsir mengenai introvert. Yang orang-orang tahu, introvert berarti pribadi yang tertutup, misterius, dan tidak bisa bersosialisasi dengan orang lain. Fuah pun menyangkalnya.

Tidak semua yang menulis di buku diary adalah orang yang tertutup. Seseorang juga butuh waktu sendiri untuk merenungi apa yang ia alami. Butuh sebuah media yang bisa menyalurkan emosinya. Entah itu buku diary, notes, buku biasa, maupun catatan di gawai.“Menurutku, teman tidak selalu berhubungan dengan manusia atau orang di sekitarku. Banyak wujudnya. Salah satunya ya buku diary,” ujarnya.

Jika masih ada yang memandang bahwa menulis buku diary adalah kekanakan dan ketinggalan zaman, maka lain halnya dengan Fuah. Justru dari tulisan yang ada di buku diary-nya, bisa mengantarkan Fuah menerbitkan sebuah buku. Judulnya Bertumbuh.

Fuah juga tidak berhenti hanya di buku diary saja. Kadang, ia juga menulis di catatan atau pun WhatsApp. “Tergantung mood dan kondisi. Kalau udah nggak bisa tahan, aku nulis di notes sama WhatsApp yang punya ‘sudut’ tulis khusus di sana,” jelasnya.

Mahasiswa semester 5 Prodi Akuakultur Universitas Tidar ini mengaku setiap generasi punya cara masing-masing untuk berekspresi. Yang terpenting jangan berhenti menulis. Seseorang bisa semakin dikenal hanya dengan membaca tulisannya. “Tidak masalah kalau tulisannya bukan di buku diary. Toh kita bisa nulis di mana saja,” tuturnya. (cr1/laz)

Weekend