RADAR JOGJA – Menulis buku diary menjadi salah satu cara mengeskpresikan diri, meluapkan emosi. Kemudian juga dapat mengurangi beban mental. Menjadikan pikiran berpikir positif. Rupanya, menulis buku diary dapat menjadi metode dalam terapi psikologis. Namun, praktiknya, dalam psikologis metode ini disebut jurnal harian.

Psikolog klinis di Jogjakarta Herlini Utari mengatakan, metode menulis buku diary ataupun jurnal harian ini dikenal dengan istilah teraputik journaling. Terapi ini diterapkan dalam penanganan orang dengan gangguan mental ringan. Seperti depresi dan kecemasan. Kemudian juga problem distorsi kognitif. Atau kesalahan dalam berfikir seseorang dan permasalahan mood. “Ada dua teraputik journaling. Yaitu expression writing dan reflection writing,” kata Herlin saat dihubungi Radar Jogja (5/11).

Lebih lanjut dijelaskan, expression writing yaitu bagaimana menyampaikan rasa atau emosi yang tidak terungkapkan dalam kehidupan sehari-hari diekspresikan melalui tulisan. Seseorang dapat menyampaikan pesan kepada orang lain.

Bahkan berisi luapan emosi. Lain halnya dengan reflection writing. Orang dalam gangguan kecemasan dapat memaknai, bersyukur atas kejadian yang dialami. Apa lesson learning-nya. Bagaimana pembelajarannya.

Herlini yang juga seorang terapis psikologis di sebuah rumah sakit ini mengatakan, dalam penulisan jurnal harian ini dia menerapkan dua pendekatan itu bagi pasien-pasiennya. Sehingga ada dua jenis buku. Bagi mereka yang menginginkan terapis psikologis dengan jurnal harian ini.

Kendati begitu, tidak semua pasien dapat menerima jenis terapis ini. Ada pula yang menggunakan visual. Tergantung dari kemampuan pasiennya. Apakah lebih suka menulis ataupun dengan menggambar. Sebagaimana disukai anak-anak. “Tidak semua cocok dengan teraputik journaling. Hanya yang suka menulis saja,” kata Herlin.

Nah, dampak psikologinya ketika seseorang meluapkan emosinya dengan cara menulis buku diary, maka mereka yang sulit atau tidak terbiasa untuk mengekspresikan perasaannya. “Secara tidak langsung dapat mengekspresikan keluar dari zona aman,” ungkapnya.

Bila teraputik journalising ini terus dilakukan, maka akan menumbuhkan mental yang baik. Mengubah perilaku negatif menjadi positif. Lebih peduli dan siap di dalam memecahkan masalahnya sendiri.

“Apalagi untuk anak-anak. Bagus sekali untuk perkembangan emosinya,” beber Herlin. Lanjut tidak, terapi metode ini dapat menurunkan beban ngatif dan mengubahnya menjadi hal-hal positif. (mel/laz)

Weekend