RADAR JOGJA – Sepuluh tahun lalu, mungkin tidak pernah terbayangkan. Bagaimana anak-anak muda usia SMA hingga kuliah dengan bangga menyanyikan lagu berbahasa Jawa, seperti yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir.

Sebelum pandemi Covid-19, lagu-lagu berbahasa Jawa dari musisi daerah sangat masif diperdengarkan di ruang-ruang anak muda. Pengamat musik Shindu Alpito punya catatan menarik soal meledaknya musik Jawa ini.

Menurut Shindu, popularitas musik dengan bahasa Jawa tak lepas dari kemunculan campursari. Kemudian dilanjutkan dengan meledaknya seorang Didi Kempot. “Ledakan dahsyat itu memang dimulai oleh Didi Kempot,” kata Shindu kepada Radar Jogja.

Menurutnya, belakangan musik dengan berbahasa Jawa juga melakukan revolusi. Mereka menyesuaikan zaman. Seperti memasukkan unsur genre lain yang sedang digemari. Misalnya dulu ada NDX Aka Familia dengan genre hip-hop.

Juga ada unsur genre pop, seperti yang saat ini digandrungi. Salah satunya dilakukan oleh Ndarboy Genk. “Itu bisa disebut dengan era post-campursari,” ujarnya.

Kemunculan para musisi Jawa yang masih berusia muda seperti Ndarboy Genk dan beberapa musisi lain, menurut Shindu, kian membuat generasi muda Jawa kini bangga dengan sisi kedaerahannya. Rupanya, fenomena itu tak hanya terjadi di Jawa saja. “Di daerah lain, misalnya di Minang, itu juga begitu,” jelasnya.

Lebih lanjut sosok yang memiliki acara talkshow di Youtube dengan nama Shindu’s Scoop ini menyebut, kekuatan musik daerah termasuk musik Jawa itu pada kebersamaan. Artinya, satu lagu bisa saja dibawakan oleh banyak orang. Di berbagai acara yang merakyat. Termasuk juga di-cover.

Menurut Shindu, tindakan cover ini memiliki sisi positif dan negatif bagi para pemusik daerah. Sisi positifnya, lagu yang memang bagus bisa tersebar dengan cepat dan mengakar kuat di masyarakat. Seperti lagu karya Kukuh Prasetya yang kemudian dipopulerkan oleh Ndarboy Genk.

Sisi negatifnya, menurut Shindu, si musisi asli justru bisa kalah populer. Bahkan dalam banyak kasus, musisi asli justru tidak mendapatkan royalti apa pun. “Bahkan dalam wawancara saya dengan almarhum Mas Didi Kempot, dia nggak dapat apa-apa dari yang cover itu,” jelas Shindu.

Industri musik nasional memang terus berkembang. Shindu juga bisa melihat itu pada industri musik daerah. Termasuk industri musik Jawa. Ia melihat adanya masa depan cerah.

Namun, dengan catatan ekosistem pada industri tersebut harus jelas. Artinya, adanya pembagian yang jelas bagi pencipta lagu, penyanyi, dan penulis. Juga para pekerja yang terlibat di dalamnya.

“Termasuk juga harus ada apresiasi yang baik dari masyarakat. Misalnya ya dengan membeli rilisan fisik asli, mau membayar untuk menonton konser,” tandas Shindu. (kur/laz)

Weekend