RADAR JOGJA – Awak dewe tahu nduwe bayangan. Mbesuk yen wes wayah omah-omahan. Aku moco koran sarungan, kowe blonjo dasteran.

Demikian sepenggal lirik Mendung Tanpo Udan, lagu ciptaan Kukuh Prasetya yang kini tengah kondang. Kendati berbahasa Jawa, lagu ini booming se-Indonesia. Liriknya jadi akrab, sebab dianggap mewakili pengalaman banyak orang.

“Ya, alhamdulillah senang,” ujar Kukuh tersipu. Pria dengan nama panggung Kukuh Kudamai itu memberi jawaban terkait perasaannya saat ini, saat ditemui di Workshop Java, Panggungharjo, Sewon, Bantul Kamis sore (4/11).

Bukan sombong, pria asal Madiun, Jawa Timur, ini sebenarnya sejak awal sudah memprediksi bahwa lagu ciptaannya bakal mbledos. Nah, ketepatan prediksi itu justru membuka sebuah pemahaman. Ada ketidakterbatasan dalam sebuah sekat, yang disebut dengan lokalitas atau kedaerahan.

Lokalitas, dalam hal ini Bahasa Jawa, kerap dianalogikan sebagai kotak. Ruangnya terbatas dalam batas lokalitas itu. “Aku pikir, bahasa daerah itu terbatas. Ternyata bisa menembus, melintas. Dari nyantol di telinga, pendengar mencari sendiri artinya (lirik lagu Mendung Tanpo Udan, Red) dan mengerti pesan yang ingin disampaikan. Akhirnya alhamdulillah bisa diterima,” ujarnya.

Untuk itu, lulusan Seni Teater Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta ini percaya diri dengan ‘lokalitas’ Jawa yang dimilikinya. Kukuh tidak dapat memastikan dirinya berdedikasi untuk sepenuhnya berkarya dalam Bahasa Jawa. Namun, Bahasa Jawa berikut dialek yang digunakannya, telah mewarnai karakter Kukuh.

“Aku pikir itu adalah karakter, jadi aku punya keunikan. Kalau aku (ditanya, Red) konsisten ke spesifikasinya lagu Jawa, aku belum tahu. Aku berkembang waelah. Merdeka,” cetusnya, kemudian tertawa.

Kendati begitu, Kukuh menyebut alunan Bahasa Jawa memiliki suatu magnet yang tidak terjelaskan. Kemudian dari situlah tercipta getaran. Menarik pendengar dan meluas. “Aku kemarin ketemu temanku ngobrol terkait frekuensi. Ternyata Bahasa Jawa memiliki kelebihan yang luar biasa. Ada sesuatu yang magical,” ujarnya.

Contoh kecilnya adalah kata ‘besok’. Dalam dialek atau logat Jawa, kata itu berubah jadi ‘mbesuk’. Contoh lainnya adalah kata ‘Bantul’ berubah jadi ‘Mbantul’. “Ada ‘ngeng’, yang semacam getaran di sana. Seperti gamelan dan naluriku ke sana,” jelasnya.

Kepada koran ini Kukuh mengungkap bahwa ada musisi ibu kota yang meminta dibuatkan lagu padanya. Namun, permintaan ditolak secara halus oleh pria yang sampai saat ini tidak mau membeli mobil itu. “Belum ada yang deal dengan harganya,” ucapnya meringis.

Dalam visi berkarya, seniman serba bisa ini hanya mengaku ingin berbagi rasa. Sekadar tahu, meskipun lirik lagu yang ditulis Kukuh terkesan nyata. Kisah di baliknya bukanlah pengalaman pribadi. Tapi pengalaman orang-orang terdekat Kukuh. Rasa yang dibagikan pada Kukuh itu kemudian diolah jadi lirik sebuah lagu. Lalu dibagikan ulang kepada pendengar.

Misalnya lagu berjudul Udan tanpo Mendung itu. Penggalan liriknya, aku uwong seng ora gampang sayang. Mergo aku wethi kroso peteng neng nggon padang. “Wong bar putus ki mencari pelarian ke tempat keramaian. Tapi di tempat keramaian justru dia merasakan kesepian. Itu hasil aku riset. Semua laguku itu fiktif, hasil riset. Materi kecil itu yang kemudian aku bahasakan,” bebernya. (fat/laz)

Weekend