RADAR JOGJA – Selain di Alkid, saat ini es goreng mulai sulit dijumpai. Namun tak sedikit pula restoran yang menjual es goreng dengan berbagai komposisi yang dimodifikasi.

Kitchen Manager Al Buruuj Catering Jogjakarta Naufa Salsabila mengatakan, bahan pembuatan es goreng cukup simpel. Bahan dasarnya menggunakan air yang dicampurkan dengan perisa makanan. Bisa perisa rasa buah-buahan maupun rasa cokelat. Kemudian dicampur bahan lainnya seperti susu kental manis, gula, santen dan tepung maizena.

“Es goreng, jajanan anak yang harganya murah. Dulu sering disebut es jadul atau es lilin,” ungkap Naufa saat dihubungi Radar Jogja (29/10). Dikatakan es lilin karena proses pembuatannya seperti es lilin.

Proses pembuatannya, yakni 500 mililiter air dicampurkan dengan larutan maizena 2-3 sendok makan. Kemudian diaduk di dalam panci dengan api kecil. Perlahan-lahan tambahkan bahan lainnya. Diaduk hingga merata dan angkat. Setelah itu didiamkan hingga suhu terasa hangat atau tidak panas.

Nah, selanjutnya dimasukkan ke dalam plastik. Sama seperti membuat es kacang ijo. Plastik diiket dan dimasukkan dalam frizer atau lemari pendingin.
Setelah dingin atau menjelang beku, es lilin ditusuk menggunakan tusuk sate atau stik es krim. Bila es lilin berukuran panjang, bisa dibagi dua potong baru dimasukkan stik es krim. “Barulah plastiknya dilepas dan dicelupkan ke cairan cokelat,” kata perempuan usia 20 tahun ini.

Nama es goreng berasal dari cokelat celupnya. Karena begitu es dicelupkan ke dalam cokelat hangat, es yang beku dan dingin dapat mengeringkan cairan cokelat yang semula hangat tadi. Sehingga cokelatnya perlahan mengeras.
Dijelaskan, istilah es goreng diambil dari cokelat yang dicampur minyak goreng, lalu dilelehkan dengan teknik au bain marie. Yakni melelehkan cokelat dengan meletakkan camuran cokelat dan minyak goreng ke dalam baskom. Lalu di bawah baskom itu diberikan wajan berisi air. “Setelah esnya beku, baru dicelupin ke cokelat itu. Nah uniknya di situ,” bebernya.

Di beberapa restoran masih menyediakan es goreng ini dengan variasi toping. Mulai kacang-kacangan, buah-buahan dan es krim lainnya yang rasanya aneh-aneh. “Saya yakin es goreng ini masih diminati apabila dikembangkan lagi. Diberi varian toping dan warna,” katanya.

Disebutkan, pada dasarnya bahan pembuatan es balok antara es krim, es kado dan es goreng sangat mirip. Yang membedakan hanyalah pada konsep kemasannya. Es krim sudah berkembang dengan banyak cita rasa dan toping. Es kado bentuknya balok dan cenderung dibungkus dengan kertas kado. “Kalau es goreng, ya es lilin yang ketutup sama cokelat. Rasanya ada pahit-pahitnya gitu, tapi enak,” bebernya. (mel/laz)

Weekend