RADAR JOGJA – Bagi kamu yang kelahiran tahun 90-an, pastinya tak asing dengan jajanan yang satu ini. Terlihat sederhana, es dengan balutan cokelat. Ya, namanya es goreng.

Siapa sangka, es goreng ternyata bukan nama asli dari jajanan ini. Nama yang saat ini adalah nama yang diplesetkan dari nama aslinya “es garing” atau kering. Kenapa kering, karena balutan dari cokelat yang menyelimuti es ketika disajikan langsung mengering.

“Saya dulu punya inspirasi, sebenarnya bukan es goreng, tapi es itu saya kasih cokelat menjadi garing. Cuma saya plesetkan saja menjadi es goreng,” kata seorang pedagang es goreng, Gatot Sunardi kepada Radar Jogja.
Pak Gatot, sapaan akrabnya itu salah satu pedagang di Alun-Alun Kidul (Alkid) yang menjual es goreng. Es goreng Pak Gatot menjadi salah satu daya tarik wisatawan karena membuat penasaran para pengunjung. Ia memiliki keunikan tersendiri saat menjajakan es goreng yaitu menggunakan toa untuk mengundang perhatian konsumen.

Aksi Pak Gatot sungguh menarik, terlebih lagi laki-laki 62 tahun itu sering mendoakan para pembelinya. Selain itu, juga sangat ramah kepada pembeli. Pembeli dinilainya adalah raja yang harus diajak berbincang dan bercanda. Biasanya para penjual menawarkan jualannya hanya sekadar menawarkan saja, namun berbeda dengan Pak Gatot ini yang menawarkan dagangannya dan juga memberikan pengetahuan tentang pembuatan es gorengnya itu.

“Halo ladies bagaimana kabarnya, kamu tambah cantik saja sih, saya merasa gimana kalau kamu datang.” Seperti itu terdengar sapaan Pak Gatot saat koran ini memantau ke Alkid.

“Es goreng saya pasti pakai pengeras suara. Karena dari saya mengenalkan produk ini pakai toa. Awalnya ya spontanitas aja, malah jadi semacam strategi saya untuk menarik pembeli,” ujarnya.

Pengunjung ternyata juga penasaran karena keunikan dari jajanan yang dijual Pak Gatot. Bagaimana tidak, es yang dingin tentu akan meleleh jika digoreng. Namun bapak tiga anak yang berhasil menguliahkan anaknya hingga sarjana dan magister itu mengatakan, es goreng pada dasarnya tidak digoreng, melainkan dilumuri cokelat panas yang ada di dalam penggorengan.

“Saya melengkapi biar kesan gorengnya ada, saya pakai wajan. Kemudian orang-orang penasaran es goreng, es kok digoreng. Begitu mencoba es goreng saya, terkesan enak. Orang mengulang-ulang terus untuk beli,” ungkapnya.

Ternyata, awal mula munculnya es goreng Pak Gatot ini penuh perjuangan sejak 1980-an. Sebelum es goreng, dia lebih dulu menjual es tanpa balutan cokelat. Tetapi tetap unik dia menjual dengan panjang 60 centimeter, berbeda dengan es lilin pada umumnya. Saat ini, es goreng yang dijual hanya 30 sentimeter dengan harga Rp 5 ribu per potong.

Terdapat beberapa varian rasa ada durian, cokelat, buah naga, dan kacang hijau. Dulu harga es goreng hanya banderol Rp1 ribu-Rp2 ribu. “Jadi saya mencintai pekerjaan itu. Pernah saya berdagang ke manapun. Rasanya tidak ada yang senyaman es goreng ini, saya bisa bergurau, bercanda,” tambahnya.

Pak Gatot sudah cukup terkenal di Jogja. Selain berjualan di Alun-Alun Kidul, dia juga berjualan di beberapa tempat seperti sunmor atau even-even kuliner seperti pasar kangen. Ia berjualan menggunakan sepeda motor. Dulu dia berjualan keliling Jogja, namun setelah menemukan tempat yang dianggapnya ramai (Alun-Alun Kidul), maka ia sering berjualan di sana dan menetap. “Saya masih pakai box yang dulu juga. Sesederhana itu, tapi alhamdulillah masih dinikmati es goreng saya,” tambahnya. (wia/laz)

Weekend