RADAR JOGJA – Figur karakter atau action figure secara umum diartikan sebagai mainan atau barang koleksi tokoh pahlawan super atau karakter dalam sebuah film. Biasanya ukuran action figure kecil dan terbagi dalam beberapa dimensi. Namun, penanda penting sebuah mainan dapat disebut action figure adalah strukturnya yang memiliki artikulasi. Jadi, mainan itu dapat ditata atau digerakkan untuk melakukan sebuah pose.

Rata-rata penggemar action figure memang kaum Adam. Menilik sejarahnya, mainan ini diperkenalkan di Amerika sebagai bentuk maskulin dari Barbie. Mengambil seri militer GI Joe, sebuah komik yang diproduksi oleh Hasbro tahun 1950-an. “Action figure berawal dari mainan anak, boneka, kemudian berkembang ke toys,” jabar salah seorang penggemar action figure, Plenug, saat ditemui di Radar Jogja kediamannya, Panggungharjo, Sewon, Bantul, Kamis malam (7/10).


PENANDA PENTING: Jajaran koleksi action figure kategori kitbash milik sebagian anggota Urban Verse yang berjajar seperti geng.(SITI FATIMAH/RADAR JOGJA )

Diakui Plenug, perkenalannya dengan action figure dimulai saat ia masih anak-anak. Seiring bertambahnya usia, sensasi memainkan action figure lantas mengalami perkembangan. Hal itu tidak hanya dirasakan oleh Plenug, tapi juga teman-temannya yang turut hadir saat Radar Jogja berkunjung. Mereka adalah Kong Ali, Herb, Indra JC, Bayu AB, Ridho, May Rhoma, Rei Wasabi, dan Awan Abdul yang bernaung di bawah Komunitas Urban Verse. Kesamaan yang mengumpulkan anggota komunitas ini ternyata karena mereka sesama kitbasher bertema urban casual.

Berbeda dengan para penggemar action figure lain yang merawat keutuhan sebuah tokoh action figure. Kitbash justru membongkar sebuah action figure buatan pabrik. Pretelan action figure hasil bongkaran lalu dirakit dengan pretelan action figure lain untuk menjadi sebuah tokoh baru menyesuaikan imajinasi. “Jadi dari pabrik dipecah. Misalnya kepalanya dicopot atau tangannya dicopot, kemudian dibentuk jadi satu karakter baru sesuai selera,” jelas Plenug.

Selain merakit sebuah tokoh baru, terkadang kitbasher juga merangkai ulang tokoh action figure. Misalnya Kong Ali yang merangkai ulang tokoh Gatchaman. Pria ini memang mengidolakan tokoh pahlawan yang hadir sekitar 1980-an itu. “Susah dapatkan karakternya, karena sudah dari zaman baheula, akhirnya bikin. Tapi pasti beda, karena saya bikin sendiri,” tegasnya.

Bagi Kong Ali, jadi seorang kitbasher penghobi action figure adalah sebuah kebanggaan. Action figure yang dimiliki oleh kitbasher pasti berbeda. Lebih unik, bahkan mungkin hanya ada satu, sebab diproduksi secara pribadi. “Kebanggan anak-anak kitbash itu koleksinya bahkan ada yang tidak dijual. Kalau action figure biasa kan asal ada uang bisa beli,” papar Kong Ali.

Nah, di sinilah pentingnya keberadaan komunitas. Anggota Urban Verse menggunakan ukuran 1:6 dalam kreasinya. Hal itu demi memudahkan mereka mendapat komponen pendukung saat mencipta tokoh yang mereka inginkan. “Misal beli, terus tidak suka celananya. Beli yang lain, yang model celananya disuka terus dipasang ke action figure. Atau aku suka kepalanya, terus aku beli (action figure utuh, Red) buat ambil kepalanya aja. Sisanya bisa tukar atau dijual sama teman,” tambah Kong Ali.

May Rhoma menimpali, perawatan action figure memiliki kesulitan beragam. Merawat keutuhan aksesoris action figure yang menggunakan bahan dasar kulit adalah yang paling sulit. Bahan itu mudah rusak, sehingga membutuhkan perlakukan khusus. Sementara dalam hal bodi, bahan yang menggunakan unsur karet cenderung mudah robek dan pecah. Kendati bahan itu memiliki keunggulan dalam hal kerapian. (fat/laz)

Weekend