RADAR JOGJA – Membuat modeling action figure dari clay sudah menjadi makanan sehari-harinya. Kendati demikian, prosesnya tak membutukan waktu singkat. Butuh hingga satu bulan untuk menciptakan detail karakter realistik. Begitulah proses penciptaan modeling spesifik pada kepala action figure oleh Abrams B, 36, warga Maguwoharjo, Depok, Sleman.

“Awalnya lebih ke figur binatang. Tetapi karena ada permintaan karakter lainnya, saat ini spesialis bentuk kepala manusia, menirukan kepala hero,” ungkap Abrams kepada Radar Jogja, Jumat (8/10).

Bermula dari anjing pitbul, lalu binatang purba dan merambah kepala karakter superhero yang dibuat secara custom. Sesuai request pemesan. Adapun karakter superhero yang pernah dijadikan contoh. Yaitu Batman, Superboy, Superman, dan lainnya. Tak terkecuali karakter wajah lain seperti wajah si pemesan misalnya. Mahir baginya.

Dalam proses pengerjaan, dia mengaku tak menemukan kendala. Kemampuan teknis tidak diragukan lagi. “Kalau secara bentuk dan teknis sih tidak ada kendala. Hanya saja membutuhkan waktu pengerjaan agak lama,” beber pria yang akrab disapa Gobram itu.

Untuk satu model wajah berskala satu banding enam, jika karakternya detail bisa memakan waktu hingga 30 hari. Jika bentuknya diambil dari garis besarnya saja, memakaan waktu lebih singkat. Hanya lima hari.
Selain proses pendetailan, waktu paling banter ada pada proses negosiasi.

Komunikasi dengan pelanggan, bagaimana membuat karakter action figure sesuai pemesan. Dalam pembuatan action figure ini tak lepas dari peran serta pemesan action figure. Agar tidak mengecewakan pemesan. “Selain itu lebih komunikatif dan sebagai edukasi juga kepada pemesan, untuk menghargai proses pembuatan suatu karya,” katanya.

Dunia action figure bukanlah hal yang melekat di benaknya. Bukanlah sesuatu yang dia minati. Tetapi ia mampu dan memiliki skill untuk itu. Yakni, kemampuan mencontoh, menirukan dan menambahkan objek yang sudah ada maupun mengembangkan karakter sesuai keinginan pemesan.
Ini menjadi senjatanya untuk mendulang pundi uang. Sebab, meskipun ukurannya kecil, berskala 1/6 atau one on six, harga satu kepala dibanderol fantastik. Untuk satu kepala detail bisa dijual di atas Rp 1 Juta. “Minimal Rp 800 ribu untuk karakter yang tidak terlalu mendetail,” katanya.

Lebih lanjut dijelaskan, ia fokus pada bentuk headscope. Hanya sekadar bentuk, bukan untuk pewarnaan hingga finishing. “Biasanya, pemesan mewarnai sendiri,” ujarnya.

Kendati pemesanan hingga sampai pewarnaan dan finisihing, maka akan lebih banyak memakan biaya. Menyesuaikan kualitas bahan atau materil. Menurutnya, profesi ini cukup diminati terutama bagi kolektor action figure yang menghendaki koleksi limited edition. Karena karakter yang dibuat jauh berbeda dengan karakter yang dikeluarkan dari pabrikan.

Dia menceritakan, awal mula berkecimpung di dunia modeling action figure ini lantaran komik. Dia yang memiliki kemampuan membuat komik tak puas jika hanya berbentuk dua dimensi. Selanjutnya melakukan eksplorasi menggunakan clay menciptakan komik tiga dimensi. Nah, dari situlah karya-karyanya mulai dilirik orang. Tak khayal seorang pecinta action figure memintanya membuat action figure sesuai yang ada di buku komik tersebut. “Pemesannya person to person. Bukan komersil industrial,” tandasnya.

Pria jebolan Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta ini mengaku, sejak kecil tertarik dengan dunia tiga dimensi action figure setelah melihat koleksi di diorama Monumen Jogja Kembali (Monjali). “Kalau mulai mengulik action figure ini sih sejak 2018 hingga kini,” terangnya.

Adapun peminatnya, selain dari Jogjakarta ada juga dari Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Ke depannya dia ingin mengembangkan lagi potensinya. Yakni membuka custom figure tidak hanya hero, tetapi bagi mereka yang ingin mengabadikan fotonya ke dalam bentuk tiga dimensi, action figure. “Selain itu menjual dalam bentuk ready, karakter superhero lainnya,” ucapnya. (mel/laz)

Weekend