RADAR JOGJA – Memasuki zaman serba modern, segala promosi bisa dilakukan secara mudah seiring banyak bermunculan platform sosial media. Ini menjadi ajang para kreator konten untuk menciptakan fashion momentnya sendiri, termasuk seputar konten kecantikan.

Seperti seorang make up artist (MUA) Annisa Dwi Widyastuti yang sudah menggeluti dunia kecantikan lima tahunan ini mengatakan, banyak fitur-fitur menarik pada platform sosial media dimanfaatkan sebagai ajang promosi. Salah satu promosinya untuk menampilkan hasil karya make up yang dilakoninya itu, konsep yang diambil seperti menonjolkan make up transisi before after.
“Iya sekarang banyak orang buat make up transisi. Kalau saya tujuannya untuk strategi promosi terbaru. Karena zaman semakin maju, jadi promosinya nggak bisa ngandalin hanya satu cara saja,” katanya kepada Radar Jogja (24/9).
Biasanya, pembuatan make up transisi ini dikerjakan di kala mengasah kemampuan dalam melukis wajah artis atau model. Justru dilakukan di luar jadwal make up dengan klien. Ini dinilai lebih leluasa dan waktunya tidak terbatas dalam membuatnya. Demikian pula bisa memilih model yang terbaik.
“Biasanya aku buat (transisi) itu pas ngasah skill, biar nggak buru-buru dan maksimal. Kan mau buat promosi, kalau tiap ngejob bikin transisi nggak cukup waktunya,” ujarnya.
Perempuan 32 tahun itu menyebut, untuk menampilkan strategi promosi itu karya yang dibuat biasanya di luar dari konsep modern saat make up dengan klien. Tetapi, mencoba menampilkan kemampuan di luar dari konsep biasanya, seperti make up adat Jogja putri, Solo putri, Suntiang Palembang, Padang, Bali, dan lain-lain.
“Promosi yang saya tonjolkan adalah total looks-nya atau lebih ke hasil akhir. Mau apapun produk kalau skill-nya dapat, mesti hasilnya bagus,” jelasnya.
Menurutnya, salah satu faktor penunjang agar hasil karyanya terlihat maksimal adalah pada pemilihan konsep make up. Tidak selalu berpacu pada satu produk tertentu. Diklaim kebanyakan MUA justru mengkolaborasi make up artist dengan mencampur produk. “Mau produk lokal sekalipun, syukur dari looks yang biasa jadi cantik mewah, itu yang jadi nilai tersendiri. Bukan produknya,” terangnya.
Penunjang lain juga pada modal dari kanvas wajah yang sehat. Ketika wajah tidak berjerawat, maka tidak perlu efort yang besar seorang MUA untuk menanggulanginya. Tetapi jika sebaliknya diperlukan efort yang besar untuk menutupi wajah yang berjerawat atau ada tekstur. Disamping juga dibantu hasil pencahayaan pada kamera.
“Misal ada bopeng atau jerawat, maka cover-nya harus lebih, foundation-nya ditambahi untuk menutup bopeng dan nyamarin. Sama strategi pemotretan lebih diterangi biar nggak kelihatan teksturnya,” tambah MUA profesional.
Dari make up transisi yang dibuat itu, kemudian dipost ke media sosial Instagram, story WhatsApp, maupun secara konvensional dari satu orang ke orang lain dengan menunjukkan hasil transisi yang dibuatnya. Ini sebagai ajang promosi skill yang dipunyainya itu sejak 2016 silam.
Dalam perjalanannya, Putri Pariwisata DIJ dan Putri Menteri Pertanian RI ini pernah dimake up olehnya. Juga pernah juara I lomba Make Up QL Cosmetic di Jogja dan mengikuti Grand Final ke Jakarta, perwakilan dari Jogja. “Alhamdulillah dari yang saya buat sampai sekarang saya bisa fokus pada pekerjaan ini. Kalau dulu awal-awal masih nyambi,” tambahnya. (wia/laz)

Weekend