RADAR JOGJA – Mengetahui kualitas sebuah produk sebelum membelinya adalah hal yang penting. Hal ini tentu juga berlaku untuk produk make up dan skincare atau kecantikan. Sebab akan jadi sia-sia jika produk yang dibeli ternyata tidak sesuai dengan jenis kulit. Di sinilah peran seorang pengulas atau reviewer dibutuhkan.

Ade Kurnianingrum Handika Putri, perempuan 28 tahun ini menjadi rujukan sekitar 7.300 orang untuk urusan kecantikan dan fashion. Dia beraktivitas sebagai reviewer sejak tahun 2015. “Aku mulai review dari blog. Awalnya lebih ke fashion dari brand lokal yang dijual secara online,” beber Mia, sapaan akrabnya, saat dihubungi Radar Jogja (24/9).

Aktivitas Nia sebagai blogger inilah yang membuatnya dilirik oleh beberapa brand kecantikan. Mulai mendapat tawaran untuk review produk kecantikan, ulasan Nia disambut positif. “Coba review sekali dua kali. Kok antusiasnya dari pembaca bagus. Akhirnya ya udah deh, review sendiri. Nggak bekerjasama dengan brand, kalau suka sama produk mulai review sendiri,” ucapnya.

Tingginya antusias atau perhatian terhadap kecantikan ternyata dipengaruhi oleh kebutuhan. Di mana masing-masing orang memiliki jenis kulit yang berbeda. Sehingga orang yang memperhatikan kecantikan, pasti mencari referensi yang cocok dengan dirinya. “Kebutuhan kulit itu beda-beda banget,” ujarnya.

Ibu satu orang putra ini menjabarkan, saat dirinya masih lajang kebutuhan kulitnya sudah beragam. Lantaran perempuan memiliki siklus bulanan yang membuat hormon di dalam diri berubah-ubah. Terlebih saat ini ia sudah memiliki anak berusia hampir 10 bulan. “Sekarang lebih spesifik lagi. Pas hamil dan setelah menyusui, beberapa followers aku di Instagram mulai banyak tuh yang minta aku review produk yang aman untuk ibu hamil dan busui,” paparnya.

Kendati sudah berupaya maksimal, tetap saja ada pandangan miring yang tertuju pada Nia. Sebagai reviewer, tentu lulusan Sekolah Tinggi Multi Media MMTC ini menerima endorsement. Sebenarnya itu menguntungkan bagi Nia, lantaran dirinya dipandang memiliki nilai. Tapi ada pembaca ulasan yang justru mempertanyakan. “Ada yang tiba-tiba mengirim pesan ‘Kak kemarin review ini ya. Beneran bagus nggak sih produknya.’ Suka ada yang tanya gitu,” ungkapnya.
Hal itu sebenarnya dimaklumi Nia. Lantaran ada kekhawatiran dari pembaca di blog atau akun Instagram-nya terkait review yang tidak jujur. Hal ini disikapi dengan mengajak para reviewers melakukan kampanye konten jujur. “Kemarin sempat rame juga itu, soalnya memang ada oknum yang kalau endorsement review-nya nggak jujur,” keluhnya.

Nia menekankan, seorang reviewer seharusnya memegang prinsip. Endorsement seharusnya diperuntukkan bagi kerja keras reviewer. Bukan untuk opini yang disampaikan oleh reviewer. “Memang kalau endorsement ada barter atau ada fee-nya, tapi yang dibayar adalah effort dari si reviewer. Misal coba skincare baru, belum tentu cocok, siapa tahu breakout. Nah itu yang dibayar,” jelasnya.

Sementara opini dari reviewer adalah sesuatu yang seharusnya tidak dibeli. Namun penggunaan diksi reviewer menjadi hal penting. Nia berpesan kepada reviewer lain, produk yang tidak cocok dengan kulitnya, sepatutnya disampaikan dengan jujur saja. Namun, disertai dengan keterangan yang tidak menjatuhkan brand yang memberi endorsement.

“Kalau nggak cocok, pasti aku bilang sih. Oh ternyata produk ini nggak cocok, karena ternyata kulit aku sensitif. Tapi mungkin cocok dengan yang kulit yang kering. Bukan terus bilang, oh ini bagus pasti cocok untuk segala kulit,” tegasnya.

Sementara bagi selebgram Utin Sumrotin, endorsement bisa jadi sebuah penghasilan bulanan bagi influencer dan selebgram. Sebuah hal bisa dibilang sebagai keuntungan, sebab tidak semua orang bisa dapatkan. Dan bekerja sebagai konten creator, mendapat endorsement itu tidak semudah yang orang lihat di layar.

Reviewer bertanggung jawab terhadap produk yang mereka review. Apakah benar sesuai dengan review atau tidak. Selain itu butuh ide, waktu, bahkan pengambilan gambar berulang-ulang. “Buat dapetin hasil yang diinginkan oleh si klien. Nah, itu sih mestinya yang diketahui oleh orang. Biar nggak judge negative,” tandas perempuan asal Mempawah, Kalimantan Barat, itu. (fat/laz)

Weekend