RADAR JOGJA – Sebelum era timbangan digital seperti sekarang, ada timbangan manual yang cukup pupuler pada masanya. Bahkan sampai saat ini timbangan itu masih cukup banyak digunakan. Terutama oleh para pedagang di pasar atau warung.

Timbangan ini memiliki banyak nama. Ada yang menyebut timbangan jago. Ada pula yang menyebut timbangan burung, timbangan kodok, timbangan bebek. Mungkin ada juga yang menyebut dengan nama yang lain. Namun untuk memudahkan, penulis akan menggunakan nama timbangan jago sepanjang tulisan ini.

Timbangan ini memiliki ciri khas warna cat merah. Juga ada anak batu yang jadi salah satu alat yang membuat timbangan ini berfungsi. Anak batu itu biasanya memiliki berbagai macam ukuran. Yakni, 50 gram (1/2 ons), 100 gram (1 ons), 200 gram (2 ons), 500 gram (1/2 kg), 1000 gram (1 kg).

Dulu di DIJ ada puluhan pabrik yang khsusus memproduksi timbangan manual itu. Salah satu wilayah yang dikenal sebagai sentra produksi timbangan jago adalah di Keparakan, Mergangsan, Kota Jogja. Namun, kini di wilayah tersebut hanya tersisa satu pabrik saja, yakni Supardi dengan timbanan jago merk Akur.

Supardi merupakan generasi kedua dari usaha tersebut. Ia meneruskan usaha yang dirintis sang ayah pada tahun 1970-an. “Saya ini meneruskan bapak. Dulu beliau buka ini, tahun 1975 kalau tidak salah,” katanya kepada Radar Jogja.
Ia dibantu empat karyawannya berusaha keras untuk terus melakukan produksi timbangan jago. Meski sempat diganggu pandemi, perlahan usahanya kini membaik.

Saat ini perusahaannya mampu memproduksi 40-an timbangan jago dalam sepekan. Timbangan jago itu dijual ke seluruh penjuru DIJ. Juga ke Jawa Tengah dan sekitarnya. Supardi mematok harga satu timbangannya dengan Rp 330 ribu.

Dijelaskan Supardi, ada sedikit perbedaaan antara produksi timbangan jago dahulu dengan sekarang. Yang paling terasa adalah pada mangkuk yang biasa digunakan untuk menaruh barang yang akan ditimbang.

Dulu ia menggunakan bahan kuningan untuk pembuatan mangkuk. Sementara kini hanya menggunakan alumunium saja. “Sekarang pakai alumunium, karena kuningan mahal,” katanya.

Lebih lanjut pria 60 tahun itu menyatakan timbangan jago meski terkesan ketinggalan zaman, memiliki keunggulan dibandingkan timbangan digital. Salah satunya adalah keawetannya. “Lha ini saja udah 30 tahun masih bisa dipakai,” ujar Supardi sambil menujukkan salah satu timbangan jago tua yang ada di dekatya. (kur/laz)

Weekend