RADAR JOGJA – Timbangan merupakan alat ukur massa atau bobot yang tidak asing lagi bagi semua orang. Mulai dari versi digital, manual hingga timbangan hybrid. Timbangan manual menjadi salah satu alat ukur yang masih digunakan hingga sekarang.

Salah satu pemakai timbangan manual di Kapanewon Patuk, Gunungkidul, Yasimo mengaku lebih nyaman menggunakan timbangan kodok (ada yang menyebut timbangan jago). Neraca duduk atau neraca kodok di toko kelontongnya digunakan untuk mengukur berat bahan makanan, rempah, buah-buahan atau yang lainnya.

“Menggunakan timbangan kodok, menurut saya pribadi, akurasinya lebih bisa dipercaya,” kata Yasimo saat dihubungi Radar Jogja kemarin (24/9).
Dia kemudian menjelaskan cara kerja timbangan kodok. Untuk menggunakan alat timbangan jenis ini, ada anak batu yang dipakai untuk mengukur berat.

Anak batu terdiri atas beberapa ukuran yakni 50 gram (1/2 ons), 100 gram (1 ons), 200 gram (2 ons), 500 gram (1/2 kg), dan terberat 1000 gram (1 kg).
Kapasitas maksimal berat yang ditampung adalah 10 kg. “Alat ini juga memudahkan untuk menimbang bahan bangunan seperti paku. Di kampung biasanya warga beli eceran,” ujarnya.

Apakah timbangan yang digunakan sudah sesuai dengan aturan? kata Yasimo, yang penting hasil timbangan tidak merugikan. Bukan hanya antisipasi merugikan orang lain, potensi merepotkan diri sendiri juga sangat mungkin. “Jika hasil timbangan tidak tepat, saya sebagai pedagang juga rugi sendiri,” ungkapnya.

Sebab, tidak menutup kemungkinan adanya kelebihan takaran pada timbangan. Agar semakin yakin, anaknya juga membelikan alat timbangan digital. Secara berkala kedua alat ukur itu dibandingkan. Kalau setelah ditimbang hasilnya sama, bisa ditarik kesimpulan awal bahwa timbangan kodok miliknya masih memiliki ‘kejujuran’ dalam mengukur berat.

“Tapi terus terang, saya masih nyaman menggunakan timbangan manual jenis kodok. Mungkin karena terbiasa ya,” ucap pedagang yang memulai usaha sejak puluhan tahun silam itu.

Apakah selama ini pernah melakukan tera ulang timbangan? Dia menggeleng. Sebagai pedagang, pihaknya berusaha jujur agar tidak merugikan konsumen. Cukup sering pembeli menimbang sendiri. “Sama-sama percaya saja lah. Pedagang itu untungnya kecil, mudah-mudahan pembeli juga tau,” bebernya.

Pernah mengalami kejadian tidak mengenakkan sekaligus menggelikan. Waktu itu ada pembeli menimbang bawang. Konsumen mengira alat ukurnya tidak pas dan merugikan pembeli. Namun setelah diteliti bersama-sama, hasilnya mengundang gelak tawa. “Lha iki malah aku sik rugi (ini justru saya yang rugi, Red), jebul kelebihan takaran timbangan,” selorohnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Gunungkidul Kelik Yuniantoro mengatakan perlunya tera ulang. Karena di pasar banyak digunakan alat ukur timbang. “Setiap peneraan akan dikenakan biaya retribusi jika direparatir,” kata Kelik.

Untuk timbangan kodok, biaya reparatirnya Rp 30 ribu, sedangkan timbangan yang lebih dari 100 kilogram retribusi Rp 150 ribu. Biaya tergantung jenis timbangan. (gun/laz)

Weekend