RADAR JOGJA – Di masa Hindia-Belanda, ketoprak tobong sudah eksis di Jogjakarta. Sekitar tahun 1930-an. Pertunjukan yang kerap disebut tonil ini menemui kejayaannya antara tahun 1960 hingga 1980-an. Pada saat itu berdiri kelompok Langen Budi Wanudyo. Biasanya pentas di Pasar Demangan, Sleman.

Beberapa tokoh legendaris kala itu, Tjokrodjoyo, Basiyo, Gliding dan Khadariyah. Kemudian muncul muncul kelompok-kelompok baru. Antara lain, Kridomardi, Mardiwandowo dan Sandiworo Wargo.

Seiring waktu, keberadaan kelompok-kelompok itu kian tergerus. Pada tahun 2000-an muncul Sanggar Kelana Bakti Budaya. Lokasinya di Wukirsari, Cangkringan, Sleman. Sanggar ini masih konsisten dan eksis hingga sekarang. Beranggotakan 30 orang. Sanggar ini menjadi wahana pembelajaran bagi mereka yang tertarik mendalami ilmu ini.

Pimpinan Sanggar Kelana Bakti Budaya Risang Yuwono mengatakan, secara garis besar, lakon yang dibawakan dalam pertunjukan ketoprak tobong dari dulu sampai sekarang tetap sama. Berangkat dari cerita rakyat dan legenda. Namun beberapa tahun terakhir, di sanggar ini mencoba mengangkat naskah dengan diperkuat sisi literasi dan sejarahnya. “Jadi harus melalui riset terlebih dahulu,” ungkap pria yang akrab disapa Risang Tobong saat dihubungi Radar Jogja Jumat (15/1).

Ia menyebut cerita-cerita Ki Ageng Mangir yang memiliki versi berbeda. Atau satu bagian yang masih menjadi isu kontroversial, misal cerita Pangeran Diponegoro.

Tidak ada sentuhan baru dalam lakon. Masih sesuai pakem tradisional. Hanya saja penampilan dari segi artistiknya lebih ditata, agar memberikan nuansa berbeda di dalam pertunjukan. “Disesuaikan kebutuhan naskah ketoprak,” terangnya.

Tim artistik yang juga merangkap sebagai pemain muda, Yonas Wisma, 25, mengatakan, menjadi pemain ketoprak bukan hal mudah. Butuh konsen dan menjiwai sekalipun menjadi pemeran pendukung. Ia mengaku, beberapa kali turut memerankan prajurit dalam sebuah lakon Kerajaan Mataram.
Meskipun peran prajurit minim bicara, gerak dan ekspresi harus penuh penjiwaan. Terlebih jadi tokoh utama. Diperlukan wawasan yang luas, kekayaan bahasa dan sastra Jawa. Perlu jam terbang tinggi dalam hal ini.

Kian surutnya penikmat ketoprak tobong, menjadi tantangan sendiri. Terlebih saat pandemi Covid-19 ini pertunjukan dilakukan full daring, sehingga butuh sentuhan sinema. Otomatis gaya setnya juga berbeda. “Dari sudut pengambilan gambar jadi pertimbangan keberhasilan gelaran,” ungkapnya.

Ketoprak tobong umumnya dipentaskan pada pukul 21.00 hingga dini hari. Pemilihan peran biasanya juga dilakukan spontan di balik panggung. Bahkan menjelang pementasan dimulai. Pukul 17.00 pemain berdatangan. Satu sampai dua jam digunakan untuk berdiskusi dan pemilihan peran. Selanjutnya melakukan riasan sesuai karakter tokoh masing-masing. “Jadi di sini bener-bener spontanitas. Budaya lisannya kuat, dimainkann tanpa naskah,” ujarnya.
Aktor senior yang masih eksis sampai sekarang adalah Tancur Wintarco, Sulistyorini, dan lain-lain. Tak sedikit pula pemain dari kalangan muda yang turut bergabung. (mel/laz)

Weekend