RADAR JOGJA – Gecko. Tak semua orang familiar dengan hewan melata ini. Tapi ketika disebut tokek, sebagian besar pasti sudah pernah tahu. Minimal mendengar. Sering disamakan, keduanya punya perbedaan.

Salah seorang breeder Gecko Boggy Sanjaya menjelaskan, banyak salah kaprah mengenai Gecko. Sekalipun masih satu genus dengan tokek, Gecko atau lebih khusus lagi leopard gecko memiliki banyak perbedaan. “Karakternya lebih friendly dan mudah beradaptasi sehingga mudah untuk dijinakkan,” jelasnya belum lama ini.

Selain itu, gecko tidak bisa memanjat dan menempel di dinding seperti tokek. “Mereka hewan melata. Di habitat aslinya hidup di bawah,” jelas alumnus Teknik Mesin UGM itu.

Motif dan corak hewan melata ini memang memiliki variasi warna yang unik, cantik dan menarik. Melihatnya, orang bisa langsung jatuh hati. Tapi bisa juga langsung geli.Namun demikian, Gecko sebagai hewan nocturnal atau lebih aktif di malam hari, butuh perawatan dan pemeliharaan perhatian serius dan telaten.
Boggy, yang memiliki sekitar 1.500 gecko ini menambahkan, sekalipun memiliki habitat asli di Afghanistan, Iran, Pakistan, India, dan Nepal, mereka tidak tinggal di gurun. Maka justru salah ketika Gecko yang dipelihara kandangnya diberi pasir. Hal ini justru akan membuatnya sakit karena dianggap makanan.

Hewan ini juga berbeda dengan piaraan jenis mamalia seperti anjing dan kucing. Mereka tidak perlu dielus-elus seperti jenis mamalia. “Mereka (Gecko) termasuk hewan berdarah dingin. Kadang ada yang memperlakukan seperti kucing terus menekannya terlalu keras lalu digigit,” jelasnya.

Selain itu, warna dan motif menjadi ketertarikan tersendiri bagi para penggemar Gecko. Selective breeding selama puluhan tahun membuat mereka memiliki penampilan yang unik dan menawan.

Semakin cantik warnanya, maka akan semakin mahal pula harganya. Namun, Boggy mengingatkan breeding ini tidak bisa sembarangan karena berhubungan dengan genetik. Misalnya genetik albino yang tidak bisa bertemu satu sama lain. (naf/pra)

Weekend