RADAR JOGJA – 27 Oktober merupakan peringatan Hari Penerbangan Nasional. Peringatan didasarkan peristiwa besar di bidang kedirgantaraan. Yakni, peristiwa pertama kali identitas bangsa bendera Indonesia Merah-Putih diterbangkan di udara menggunakan pesawat Cureng.

Peristiwa itu terjadi pada 27 Oktober 1945 pukul 10.00. Adalah Komodor Udara Agustinus Adisutjipto yang menjadi pilot Cureng, pesawat peninggalan Jepang. Dia didampingi Rujito. Selama sekitar 30 menit, bendera Merah-Putih mengudara.

Ada alasan khusus memilih Adisutjipto untuk melakukan test flight pada saat itu.Dia mempunyai wing penerbang Groot Militaire Brevet. Meski merupakan wing dengan kualifikasi penerbangan pesawat Eropa, Adisutjipto lancar menerbangkan pesawat buatan Jepang tersebut.

“Penerbangan ini tercatat sebagai penerbangan pesawat beridentitas Merah-Putih yang pertama kali di alam Indonesia setelah merdeka. Diterbangkan oleh pemuda Indonesia sendiri,” terangKepala Sub Seksi Koleksi Muspurdirla Kworoseto Puspoputro kepada Radar Jogja pada Rabu (21/10).

Setelah penerbangan pertama ini, para teknisi dalam negeri kemudian bekerja memperbaiki pesawat-pesawat yang ada di Pangkalan Udara Maguwo Jogjakarta. Total ada sebanyak 50 pesawat yang ditinggalkan oleh Jepang usai masa penjajahan. Namun, setelah diperbaiki hanya ada 25 pesawat yang bisa diterbangkan.

Cureng menjadi kekuatan Pangkalan Udara Maguwo. Dalam perjalanannya, satu pesawat Cureng pernah mengalami kecelakaan pada 14 Januari 1946. Tepatnya, saat diterbangkan oleh Iswahjudi dan Wiriadinata. Keduanya berhasil selamat.

Insiden tersebut tidak menyurutkan semangat para penerbang muda. Bahkan, dua hari setelah kecelakaan, Cureng kembali digunakan untuk misi pengintaian di Laut Selatan. Setelah sukses digunakan dalam fungsinya sebagai pesawat latih, Cureng juga tercatat sebagai pesawat pertama yang digunakan dalam latihan terjun payung.

“Peristiwa itu merupakan peristiwa penting bagi TNI AU dan bangsa Indonesia, karena merupakan cikal bakal munculnya pasukan para TNI,” terang Seto.
Cureng memiliki arti penting dalam upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Pada 29 Juli 1947, pesawat tersebut digunakan untuk menyerang kedudukan Belanda di Ambarawa dan Salatiga oleh Kadet Suharnoko dan Kadet Sutardjo Sigit.

Peristiwa diterbangkannya pesawat Cureng dengan lambang bendera Merah-Putih di langit Nusantara memiliki banyak makna. Momentum tersebut, salah satunya, sebagai cara untuk membakar semangat masyarakat Indonesia, khususnya Jogjakarta, untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.Khususnya, dalam upaya mempertahankan kemerdekaan saat Agresi Militer II yang dilancarkan Kolonial Belanda.

Pada saat itu, Adisutjipto ingin menumbuhkan semangat kepada masyarakat Jogjakarta tentang pentingnya mempertahankan kemerdekaan meski dibawah keterbatasan. Hal itu diwujudkan dengan upaya melawan penjajah oleh jajaran militer udara Indonesia, meski hanya menggunakan pesawat peninggalan penjajah Jepang.

“Jadi, momentum penerbangan Cureng dengan lambang negara tersebut juga sebagai upaya Adisutjipto kala itu untuk membakar semangat masyarakat untuk ikut mempertahankan kemerdekaan,” ujarnya.(inu/mg3/amd)

Weekend