RADAR JOGJA – Penikmat seni kembali dimanjakan dengan hadirnya pesta boneka yang diadakan secara independen oleh Papermoon Puppet Theatre sejak 2008. Festival yang diadakan setiap dua tahun sekali ini menjadi ruang berkumpulnya seniman teater boneka dan para pecinta teater boneka dari berbagai belahan dunia.

Meskipun pandemi Covid-19, tak mengurangi semangat Maria Tri Sulistyani bersama tim untuk tetap menyelenggarakan festival boneka ini. “Mungkin karena tetap keras kepala aja ya (bersama)tim, kemudian berpikir ‘yuk kita tetap jalan’ gitu,” terang Ria kepada Radar Jogja.

Ria Papermoon, begitu ia dikenal, mengaku membutuhkan persiapan yang matang untuk menghelat acara ini. Terlebih, dengan konsep barunya, dia beserta tim harus melibatkan berbagai pihak demi terselenggaranya panggung virtual tersebut. “Kami mencari tim yang tepat. Itu nomor satu. Banyak hal yang tidak kami pahami tentang medium baru ini. Jadi kami memang menggandeng beberapa pihak,”jelasnya.

Festival boneka yang digelar selama satu minggu sejak 5 Oktober hingga 11 Oktober ini dilaksanakan secara virtual dan melibatkan 40 seniman. Baik individu maupun kelompok dari 22 negara. Sebelumnya, sejak akhir 2019 lalu, kata Ria, sudah ada sekitar 30 kelompok dari berbagai negara yang berkomitmen untuk datang. Beruntungnya, kelompok-kelompok tersebut tetap sepakat bergabung meski festival digelar secara virtual.“Kami tawarkan ini ke teman-teman seniman yang sudah komit itu tadi, ternyata gayung bersambut. Jadi hampir semua seniman sepakat untuk tetap mau jalan bareng,”ujarnya.(mg1/din)

Respons terhadap Kondisi Dunia

Mengusung tema “A Sip of Joy” sebagai bentuk respons atas kondisi yang tengah dihadapi dunia, festival internasional ini juga menyuguhkan berbagai diskusi, bedah buku, workshop, dan kunjungan studio seniman teater boneka di berbagai belahan dunia.

Festival yang dapat dinikmati melalui website pestaboneka.com ini mendapatkan antusiasme yang tinggi dari para penikmat seni.Hingga hari kelima, festival ini telah ditonton oleh 404 kota dari 60 negara. “Jadi ketika kita klaim ini international festival, it happen,” sambungnya.

Tak hanya itu, antusiasme peserta diskusi sangat tinggi. “Nah itu juga selalu ramai dikunjungi oleh audiens dan sangat aktif untuk berdiskusi. Jadi itu yang menurut kami di luar dugaan karena tidak dilaksanakan di prime time,” jelasnya.

Melalui festival virtual ini, Ria menemukan format baru yang menurutnya menarik. Sebab, selama ini, sentral festival raksasa selalu hadir di negara yang mapan secara infrastruktur.Untuk itu, Ria memberikan apresiasi yang tinggi kepada panitia pesta boneka ini. “Ketika kami hadir di Jogjakarta, sebuah kota kecil di Indonesia yang jaraknya jauh dari pusat seni pertunjukan raksasa dunia itu,bisa menghadirkan dan menghasilkan sebuah pertemuan yang seperti ini,” ungkapnya.

Bahkan, di kala festival internasional lain belum berjalan, pesta boneka ini mampu menjadi statemen sebuah negara. Bahwa dari Indonesia ada sebuah festival teater boneka berskala internasional di kala festival lain di seluruh dunia yang katanya established itu mungkin malah masih bingung mau melakukan apa. “Jadi dari Jogja untuk dunia itu menurut saya benar-benar sedang terjadi sekarang,” tegasnya. (mg1/din)

Weekend