RADAR JOGJA - Permainan Jailangkung atau Jelangkung yang telah lama dikenal di Nusantara, ternyata bukan sekadar permainan biasa.
Di balik boneka sederhana yang terbuat dari gayung air dan tempurung kelapa ini, tersimpan sebuah ritual yang penuh dengan aura mistis dan kekuatan supernatural.
Tradisi ini erat kaitannya dengan upaya untuk memanggil entitas gaib, menjadikannya lebih dari sekadar permainan, melainkan sebuah ritual penuh misteri yang melibatkan kekuatan dunia lain.
Jailangkung yang pada intinya adalah permainan pemanggilan roh, menggunakan media boneka yang diberi pakaian dan digantung pada batang kayu.
Boneka ini dipercaya sebagai wadah bagi makhluk halus yang dipanggil selama ritual berlangsung.
Meskipun kini sering dianggap sebagai permainan yang menyeramkan, sebenarnya jailangkung punya sejarah panjang yang lebih kompleks.
Ada dugaan bahwa asal mula nama Jailangkung berhubungan dengan kepercayaan tradisional Tionghoa kuno yang kini sudah langka.
Dalam kepercayaan tersebut, ada dewa pelindung anak-anak yang dikenal dengan nama Cay Lan Gong (菜篮公) atau Dewa Keranjang.
Ritual pemanggilan Cay Lan Gong yang juga dimainkan oleh anak-anak saat festival rembulan, memiliki kemiripan dengan permainan Jailangkung yang kita kenal sekarang.
Hubungan budaya antara Tiongkok dan Nusantara yang telah berlangsung ribuan tahun, memungkinkan ritual ini untuk berbaur dengan budaya lokal hingga menjadi bagian dari tradisi masyarakat Indonesia.
Awalnya, permainan Jailangkung hanyalah sebuah hiburan, sekadar untuk kesenangan semata.
Namun, seiring waktu, muncul mitos-mitos mengerikan yang mengelilinginya. Salah satu mitos paling populer menyebutkan bahwa jika ritual ini dilakukan tanpa mengikuti prosedur yang benar, terutama jika tidak berpamitan dengan roh yang dipanggil, maka makhluk halus tersebut bisa marah.
Akibatnya, mereka dikabarkan akan mengganggu para pemain dan menimbulkan masalah yang tidak diinginkan.
Permainan ini tidak bisa dilakukan sembarangan. Biasanya, diperlukan tiga orang untuk memainkannya: Dua orang yang memegang boneka Jailangkung, dan satu orang bertindak sebagai pawang yang melafalkan mantra pemanggilan.
Ritual ini sering kali dilakukan di lokasi yang diyakini angker, terutama saat senja, menambah suasana mencekam.
Sama seperti pendahulunya, Cay Lan Gong, Jailangkung juga dimainkan saat terang bulan, dan ketika roh atau makhluk halus tersebut hadir, mereka akan memperkenalkan diri dengan menggunakan bantuan alat tulis untuk berkomunikasi.
Mantra yang digunakan dalam permainan ini menjadi bagian yang tak terpisahkan. Mantra lengkapnya berbunyi, "Jalangkung Jalangset, Di Sini Ada Pesta, Pesta Kecil-Kecilan, Jalangkung Jalangset, Dateng Tak Dijemput, Pulang Tak Diantar."
Selain dalam bahasa Indonesia, mantra ini juga memiliki variasi dalam bahasa Sunda dan Jawa, semakin menegaskan bahwa permainan Jailangkung telah merasuk ke dalam berbagai budaya lokal di Indonesia.
Meski sering dianggap sebagai permainan yang menyeramkan dan dikaitkan dengan kesurupan, Jailangkung tetap menjadi bagian dari warisan budaya Nusantara yang menarik untuk ditelusuri.
Editor : Winda Atika Ira Puspita