RADAR JOGJA - Busana adat Jawa menyimpan filosofi mendalam di balik keanggunan tampilannya.
Dua di antaranya yang paling dikenal adalah Basahan dan Paes Ageng.
Basahan dan Paes Agung, merupakan dua gaya busana dan riasan pengantin yang berakar dari budaya keraton Surakarta dan Yogyakarta.
Asal-Usul dan Makna Basahan
Basahan merupakan busana pengantin tradisional khas Jawa, khususnya dari lingkungan Keraton Surakarta Hadiningrat.
Istilah “Basahan” berasal dari kata basah, yang bermakna tidak mengenakan atasan.
Ciri khasnya tampak pada pengantin pria yang bertelanjang dada, sementara pengantin wanita mengenakan kemben dan dodot atau kampuh yang dililitkan mengelilingi tubuh.
Busana ini bukan busana kebesaran kerajaan, melainkan busana upacara pernikahan tradisional yang sarat makna filosofis.
Tampilan tubuh yang terbuka melambangkan kejujuran, kesucian, dan keterbukaan hati antara kedua mempelai.
Filosofi ini menggambarkan kesiapan pengantin memasuki kehidupan rumah tangga secara jujur dan tanpa kepura-puraan.
Dalam perkembangannya, busana Basahan mengalami modifikasi.
Kini, banyak pasangan memilih versi yang lebih tertutup dengan tambahan kain penutup dada atau atasan agar sesuai dengan nilai kesopanan dan norma keagamaan.
Makna dan Keanggunan Paes Ageng
Paes Ageng dikenal sebagai gaya rias pengantin khas Keraton Yogyakarta.
Kata paes merujuk pada riasan dahi dan rambut yang menjadi pusat perhatian dalam tampilan pengantin wanita.
Ciri khasnya terletak pada paes berwarna hitam yang meruncing di bagian dahi, membentuk pola menyerupai daun sirih.
Riasan ini terdiri atas beberapa unsur penting seperti penunggul, pengapit, penitis, dan godheg, masing-masing dengan makna simbolik tersendiri.
Bentuk paes yang runcing menggambarkan keteguhan hati, kewaspadaan, serta kesiapan pengantin wanita memasuki kehidupan rumah tangga.
Busana yang menyertai Paes Ageng biasanya berupa kebaya beludru hitam berpadu dengan kain jarik bermotif klasik, serta dilengkapi perhiasan emas dan hiasan kepala seperti cundhuk mentul, ronce melati, dan centung.
Perbedaan Gaya Jogja dan Solo
Meskipun sama-sama berakar dari budaya keraton, gaya rias dan busana adat Jogja dan Solo memiliki perbedaan.
Paes gaya Jogja identik dengan warna hitam pekat dan bentuk paes yang tegas serta tinggi di bagian dahi.
Sementara paes gaya Solo cenderung lebih halus dengan warna kehijauan dan bentuk yang lebih melengkung.
Perbedaan ini mencerminkan karakter dua keraton besar di Jawa: Yogyakarta yang lebih tegas dan simbolis, serta Surakarta yang lebih lembut dan penuh keanggunan.
Dari Keraton ke Masyarakat Umum
Dahulu, busana Basahan dan Paes Ageng hanya dikenakan oleh keluarga kerajaan dan bangsawan.
Namun kini, busana tersebut telah menjadi simbol kebanggaan budaya Jawa yang digunakan masyarakat umum dalam pernikahan adat.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana warisan keraton mampu beradaptasi dan tetap relevan di tengah modernisasi.
Banyak pasangan muda yang memilih mengenakan busana Basahan atau Paes Ageng sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi leluhur, sekaligus sebagai ekspresi identitas budaya Jawa di era modern.
Makna Budaya dan Pelestarian
Lebih dari sekadar pakaian pernikahan, busana Basahan dan Paes Ageng mengandung nilai-nilai luhur masyarakat Jawa seperti keselarasan, kesopanan, dan penghormatan terhadap adat.
Setiap detail dalam busana dan riasan menyimpan pesan moral tentang kehidupan berumah tangga yang penuh kesabaran, kehormatan, dan keseimbangan.
Upaya pelestarian terus dilakukan melalui kegiatan budaya, parade busana, hingga pembelajaran di sanggar dan lembaga kebudayaan.
Kehadiran media sosial juga turut memperkenalkan keindahan busana adat ini kepada generasi muda, menjadikannya tidak sekadar tradisi masa lalu, melainkan bagian hidup dari budaya yang terus berkembang. (Retno Anggi Kusuma Dewi)