RADAR JOGJA - Yogyakarta yang digadang-gadang sebagai kota istimewa ini tak hanya istimewa tempatnya melainkan juga budaya dan budi pekerti luhurnya. Alih-alih mengabaikan tata krama yang berlaku, sebagai pendatang yang baru menginjakan kaki di tanah kota pelajar ini sebaiknya tahu empat hal berikut.
1. Ucapkan “Nuwun Sewu”
Ini merupakan bentuk penghormatan ketika sedang berjalan dan berpapasan dengan orang yang lebih tua. Terkadang masih banyak yang keliru mengucapkan “nyuwun sewu” yang sebenarnya berarti “minta seribu”, padahal seharusnya “nuwun sewu” yang ditujukan sebagai “permisi atau mohon maaf”.
Hal ini serupa dengan “ndherek langkung” yang berarti “permisi atau turut mendahului”. Ketika mengucapkan kalimat-kalimat sapaan ini, sebaiknya dibarengi dengan gesture tubuh menunduk dan tersenyum.
2. Turun dari kendaraan saat ingin bertanya sesuatu
Tidak semua orang yang ingin bertanya suatu hal seperti alamat memiliki kesadaran bahwa dirinya sedang membutuhkan informasi dari orang yang ditanya.
Untuk itu, sebaiknya ketika hendak bertanya, pastikan diri kita turun dari kendaraan yang kita gunakan terlebih dahulu. Ini mencerminkan rasa hormat terlebih apabila yang ditanya lebih tua secara usia.
3. Merendahkan tubuh saat berinteraksi
Di Yogyakarta ini sudah menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat, tersenyum, menunduk, membungkuk secukupnya maupun mengangguk.
Alangkah baiknya para pendatang meniru budi pekerti yang satu ini, seperti saat berbicara dengan yang lebih tua, pastikan tubuh kita lebih rendah darinya setidaknya sedikit menunduk.
4. Jangan membunyikan klakson di Malioboro saat di depannya ada becak atau andong (delman).
Malioboro yang dijadikan salah satu destinasi wajib bagi wisatawan jogja memiliki ciri khas tersendiri dengan adanya becak dan delman. Pun jalan di sekitarnya tak dapat dipungkiri akan keberadaan kedua alat transportasi yang tak lekang oleh waktu tersebut.
Para pendatang harus tahu, adab ketika di lampu merah atau yang sering disebut banjo (abang ijo) di Yogyakarta tak sama dengan daerah lain. Meskipun lalu lintas padat merayap, namun di depan kendaraan kita ada delman maupun bejak, sebaiknya jangan membunyikan klakson.
Selain faktor tata krama, becak dan delman adalah warisan budaya yang merepresentasikan kehidupan masa lalu masyarakat Yogyakarta.
Itulah empat etika tak tertulis di Yogyakarta, sudah tahu kan? Mulai sekarang, yuk kita jaga kelestarian budi luhur setempat ketika berkunjung!
(Umi Jari Widayah)
Editor : Iwa Ikhwanudin