RADAR JOGJA - Alam selalu menyimpan berbagai keajaiban, salah satunya adalah Alpine Ibex atau nama latinnya disebut Capra ibex.
seolah-olah melawan gravitasi.
Hewan ini tidak hanya menarik perhatian karena ketangkasannya, tetapi juga karena adaptasi fisik yang luar biasa.
Seperti namanya, kambing Alpine Ibex merupakan spesies kambing liar yang hidup di kawasan pegunungan Alpen, meliputi wilayah Italia, Swiss, Austria, dan Prancis.
Hewan ini memiliki ciri khas berupa tanduk panjang melengkung ke belakang yang lebih besar pada pejantan.
Tanduk tersebut dapat tumbuh hingga lebih dari satu meter dan berfungsi sebagai alat pertahanan serta simbol dominasi.
Jika kambing Alpine Ibex Jantan dewasa dapat memiliki bobot yang dapat mencapai 100 kilogram, sementara betina cenderung lebih kecil.
Meskipun berukuran besar, mereka memiliki kelincahan luar biasa di medan yang sulit dan berbatu.
Salah satu kemampuan paling menakjubkan dan membedakan kambing pada umumnya dengan spesies Alpine Ibex ini adalah kemampuannya memanjat tebing nyaris vertikal bahkan dinding bendungan batu yang curam dan licin sekalipun.
Kemampuan ini didukung oleh sejumlah adaptasi fisik, di antaranya kaki yang kuat dan fleksibel, memungkinkan mereka melompat serta menjaga keseimbangan di permukaan sempit.
Struktur kuku mereka juga unik, terdiri dari bagian luar yang keras untuk mencengkeram batuan dan bagian dalam yang lebih empuk seperti karet, yang membantu mencengkram permukaan kasar.
Selain itu, tubuh mereka dirancang dengan pusat gravitasi rendah, sehingga mampu berdiri stabil di celah sempit tanpa mudah tergelincir.
Kemampuan memanjat Alpine Ibex bukanlah sekadar keahlian bertahan hidup yang mengagumkan, melainkan juga memiliki tujuan biologis yang penting.
Salah satu alasan utama mereka memanjat dinding curam, seperti bendungan Cingino di Italia, adalah untuk menjilat kristal garam mineral yang menempel di batuan.
Garam ini penting untuk menjaga keseimbangan elektrolit dan kesehatan tulang mereka.
Selain itu, mereka juga memanfaatkan tebing tinggi sebagai tempat perlindungan dari predator seperti serigala, rubah, dan elang yang sulit menjangkau ketinggian tersebut.
Di lingkungan pegunungan yang tandus, tanaman lebih mudah ditemukan di celah-celah tebing yang sulit dijangkau hewan lain, sehingga Alpine Ibex sering memanjat demi mendapatkan sumber makanan yang lebih baik.
Ada beberapa fakta menarik seputar Alpine Ibex yang membuatnya semakin istimewa.
Pada abad ke-19, spesies ini sempat terancam punah akibat perburuan besar-besaran. Berkat upaya konservasi di Italia, populasinya kini kembali stabil.
Selain itu, pejantan Alpine Ibex dikenal sebagai petarung tangguh.
Mereka sering bertarung dengan saling membenturkan tanduk untuk memperebutkan pasangan, dan suara benturannya bisa terdengar dari kejauhan.
Menariknya lagi, anak Alpine Ibex sudah menunjukkan kemampuan memanjat hanya dalam beberapa hari setelah lahir, sebuah bukti bahwa keterampilan ini merupakan bagian dari naluri bertahan hidup mereka.
Bagaimana menurut Anda? Apakah Alpine Ibex layak disebut sebagai "pendaki tebing terbaik di dunia"?. (Adinda Tyas Ramadhani)
Editor : Meitika Candra Lantiva