RADAR JOGJA - Burung kedasih dikenal sebagai burung yang memiliki perilaku unik.
Burung ini dianggap licik karena tidak pernah membuat sarang atau mengerami telurnya sendiri baik jantan maupun betina.
Perilaku ini menjadikannya sering dikaitkan dengan berbagai mitos, salah satunya adalah kepercayaan bahwa kicauan burung kedasih merupakan pertanda kematian atau musibah.
Namun, dalam pandangan Islam, burung kedasih, seperti halnya burung lainnya, tidak membawa pertanda apapun, baik itu pertanda baik maupun buruk.
Burung dalam ajaran Islam dianggap sebagai makhluk Allah yang diberi keistimewaan untuk terbang ke berbagai tempat.
Mereka tidak memiliki kekuatan untuk menentukan nasib manusia. Hal ini ditegaskan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, dimana Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak ada penyakit yang ditularkan, burung penentu nasib baik dan buruk, burung hantu pembawa nasib sial, dan bulan Safar pembawa keberuntungan atau kesialan.”
Hadis ini menekankan bahwa Islam menolak kepercayaan terhadap takhayul atau mitos yang mengaitkan hewan dengan nasib manusia.
Oleh karena itu, dalam Islam, burung kedasih tidak dianggap membawa malapetaka atau pertanda apapun.
Setiap kejadian yang menimpa manusia adalah ketetapan Allah, bukan karena pengaruh dari hewan atau suara burung tertentu.
Namun, berbeda dengan pandangan Islam, sebagian masyarakat Jawa masih memegang mitos burung kedasih, khususnya yang berkaitan dengan kepercayaan adat kejawen.
Dalam tradisi Jawa, burung kedasih dianggap membawa pertanda buruk.
Kicauan burung ini, yang terdengar panjang dan menakutkan, sering kali diyakini sebagai pertanda musibah yang akan menimpa keluarga yang mendengarnya.
Mitos ini sangat berkembang di daerah Yogyakarta dan sekitarnya, meskipun tidak semua orang mempercayainya.
Menurut Trirani dalam jurnal Emprit Gantil, mitos ini mengakar dalam tradisi masyarakat Jawa dan berhubungan erat dengan kepercayaan terhadap tanda-tanda alam.
Kicauan burung kedasih yang sering terdengar di malam hari dianggap sebagai pertanda bahwa ada bencana atau kematian yang akan datang.
Namun, asal-usul dari kepercayaan ini tidak jelas dan tidak diketahui siapa yang pertama kali menyebarkannya.
Untuk menangkal malapetaka yang dipercaya dibawa oleh kicauan burung kedasih, masyarakat Jawa pada zaman dulu sering melakukan doa atau ritual penolak bala.
Salah satu doa yang sering dilantunkan adalah tembang macapat berjudul “Kidung Rumeksa Ing Wengi” yang diciptakan oleh Sunan Kalijaga.
Tembang ini diyakini mampu melindungi dari segala bahaya dan marabahaya, termasuk pengaruh buruk yang diyakini dibawa oleh kicauan burung kedasih.
Meskipun demikian, pandangan masyarakat terhadap burung kedasih saat ini mulai beragam.
Sebagian masih memegang teguh kepercayaan tersebut, sementara yang lain mulai menganggapnya sebagai bagian dari mitos yang tidak perlu dipercayai.
Dalam pandangan modern, suara burung kedasih hanyalah bagian dari alam, tanpa ada kaitan dengan nasib atau pertanda apapun. (Dimas Dwi Prihatmoko)
Editor : Meitika Candra Lantiva