Burung ini termasuk ordo Psittaciformes, keluarga Cacatuidae dan genus Probosciger. Dengan rentang hidup yang tergolong lama dari 40 hingga 60 tahun.
Kakatua raja atau palm cockatoo banyak mendiami wilayah Papua Nugini, Penisula Cape York di Queensland Utara, sampai ke daerah dekat Sorong, Papua Barat.
Habitat mereka biasanya di area hutan hujan, seperti hutan musim, tepi hutan, hutan kayu putih dan kulit kayu hingga sabana lebat. Sarang yang dibuat pun diletakkan di pohon-pohon berukuran besar.
Selain itu, ada julukan berbeda dari kakatua raja di setiap daerahnya, seperti alkai (Aru), mampais (Doreh), awehie (Membramo), kasmalas (Papua barat-laut), siong (Andai) dan juga sangya (Sorong).
Dalam bahasa Inggris burung kakatua ini diberi julukan Cape York cockatoo, palm cockatoo, great palm cockatoo, black macaw hingga great black cockatoo.
Palm cockatoo menyandang nama menjadi “Goliath Aratoo” dalam Sejarah Alam Wood tahun 1862. Nama resmi ini ditetapkan oleh Komite Ornitologi Internasional (IOC).
Karakteristik fisik kakatua raja adalah tampilan yang khas dari jambul dan paruhnya. Ada sepetak kulit yang berwarna merah di antara mata dan paruh burung kakatua.
Palm cockatoo versi muda memiliki bulu bawah yang berwarna kuning pucat. Sedangkan saat berusia 18 bulan, bagian ujung paruh dan cincin di sekitar mata berwarna warna putih.
Kehidupan dari burung kakatua bermacam-macam, ada yang individual, berpasangan sampai hidup berkelompok.
Masing-masing kakatua tinggal cukup dekat dengan yang lain. Kakatua raja harus menempuh perjalanan jauh untuk sekedar mendapatkan makanan atau air.
Mereka bisa membuat kelompok besar saat menghabiskan makanannya. Jika ada penganggu atau predator, palm cockatoo tidak segan untuk mengeluarkan suara peringatan kepada kawannya.
Menjadi burung yang memiliki sosial tinggi, kakatua raja membuat perkumpulan di suatu lokasi favorit mereka. Pada siang hari, mereka melakukan aktivitas bertengger di dekat sarang pohon.
Sedangkan jika hujan tiba, para kakatua raja akan mudah ditemukan. Mereka bermain air seolah-olah untuk mandi.
Aktivitas lain yang mereka lakukan antara lain, menggantungkan diri secara terbalik, merentangkan sayap hingga ekor mereka.
Baca Juga: Keabsahan Heroe Poerwadi sebagai Ketua Dipertanyakan, PMI Kota Jogja: Sudah Sesuai AD/ART
Kakatua raja adalah pemakan buah-buahan atau herbivora. Sebagian besar mereka mengonsumsi buah palem yang tumbuh liar dan kacang-kacangan dari pohon kenari.
Spesies satu ini bersifat monogami. Burung kakatua tinggal bersama seumur hidup dengan pasangannya. Perkembangbiakan yang mereka lakukan berlangsung dari bulan Agustus hingga Januari.
Banyak dari mereka yang memanfaatkan rongga berlubang di pohon-pohon besar untuk ditempati. Anak burung kakatua menjadi dewasa saat brumur 100 hingga 110 hari.
Kakatua raja bukan hanya burung biasa. Spesies ini menjadi permata alam dari keragaman kehidupan di hutan Papua Nugini dan sekitarnya.
Penulis: Razmarita Dyasprinasti
(Berbagai Sumber)