Mengenal Lebih Dekat Perjalanan Dagadu Djokdja: Dari Proyek Kuliah hingga Ikon Oleh-Oleh Khas Jogja
Winda Atika Ira Puspita• Sabtu, 6 Juli 2024 | 16:30 WIB
Store Dagadu.
RADAR JOGJA - Yogyakarta merupakan kota pelajar yang masih memegang teguh kebudayaannya di tengah perubahan zaman yang cepat.
Juga, kota ini dikenal karena memiliki kekayaan yang luar biasa dari sektor pariwisata dan kulinernya yang mampu memberikan kesan mendalam bagi siapa saja yang pernah berkunjung ke kota ini.
Selain itu, pada sektor industri kreatif banyak inovasi yang keluar dari anak-anak muda kreatif yang menambah warna pada wajah kota Jogja.
Bagi mereka yang pernah berkunjung ke Jogja pasti sudah tidak asing lagi dengan tagline “Kapan ke Jogja lagi,” yang dikeluarkan oleh salah satu perusahaan yang erat sebagai ikon merek oleh-oleh khas Jogja yakni Dagadu.
Perusahaan yang telah berdiri selama 30 tahun ini menjadi ikon, karena mereka mengadopsi unsur budaya pada setiap produk yang dikeluarkan oleh mereka.
Lantas, seperti apa perjalanan Dagadu dari usaha kaki lima hingga menjadi brand merek khas Jogja? Yuk, ikuti penjelasannya.
Dari Umpatan Menjadi Merek Dagang
Dagadu pertama kali digagas oleh 25 orang yang terdiri dari mahasiswa dan alumni program studi arsitektur Universitas Gadjah Mada pada 4 Januari 1994.
Pada awalnya, Dagadu merupakan project yang dibuat untuk memenuhi tugas kuliah.
Namun, mereka melihat bahwa project Dagadu memiliki keunikan dan juga menarik.
Dengan kesamaan minat dari ke-25 orang tersebut, akhirnya mereka memutuskan untuk melanjutkan project ini ke tingkat yang lebih serius.
Penanaman Dagadu sendiri berawal dari umpatan salah seorang diantara mereka dengan menggunakan kata slang Jogja yakni “dagadu” yang memiliki arti “matamu".
Umpatan tersebut yang kemudian menjadi inspirasi bagi penamaan merek dagang sebelum mereka memulai jualan.
Pada perkembangannya, kemudian merek Dagadu ditambahi kata Djokdja. Penamaan Dagadu Djokdja dengan ejaan lama dimaksudkan untuk menambah muatan historis kota Jogja.
Yang awalnya adalah umpatan akhirnya sampailah pada Dagadu yang kita kenal sekarang ini.
Transformasi Dagadu dari kios kaki lima menjadi perusahaan besar adalah sebuah kisah inspiratif yang patut dicontoh.
Pada 9 Januari 1994, Dagadu Djokdja memulai debutnya di Lower Ground Malioboro Mal Yogyakarta dengan konsep kios kaki lima.
Mereka memperdagangkan cinderamata alternatif dari Jogja berupa kaos oblong, gantungan kunci, stiker, topi, dan pernak-pernik lainnya yang memuat unsur-unsur khas Jogja.
Produk-produk tersebut pada awalnya merupakan bentuk penyaluran minat dan idealisme dalam menyampaikan gagasan artifak, peristiwa, bahasa, serta budaya yang hidup di tengah masyarakat Yogyakarta melalui desain grafis yang menarik dan unik.
Seiring berjalannya waktu, Dagadu berkembang pesat dan dikenal luas sebagai ikon oleh-oleh khas Jogja.
Mereka terus bertransformasi mengikuti perkembangan zaman, namun tetap konsisten dalam mengembangkan produk-produk yang mengutamakan lokalitas Jogja.
Saat ini, Dagadu memiliki tujuh outlet di Jogja dan satu outlet di Jakarta. Selain membuka outlet, Dagadu juga menyediakan tempat-tempat kreatif bagi para seniman untuk berekspresi, sebagai bentuk apresiasi terhadap inovasi dan kreativitas mereka.
Kreativitas dan Inovasi yang Berbudaya
Sebagai merek yang mengangkat budaya Jogja, Dagadu terus melakukan inovasi untuk mengikuti perkembangan zaman.
Tuntutan zaman yang semakin banyak dan seringkali membebani, tidak menghalangi Dagadu untuk terus mengembangkan kreativitas mereka melalui produk-produk mereka.
Lokalitas budaya menjadi aset berharga yang menginspirasi desain-desain produk Dagadu.
Adopsi budaya lokal Jogja ke dalam setiap produk mereka yang didesain secara kreatif dan inovatif menjadikan Dagadu sebagai ikon budaya dan sentra oleh-oleh khas Jogja yang tetap eksis selama 30 tahun dalam industri ini.
Melalui Dagadu, banyak hal yang dapat dipelajari bahwa unsur lokalitas yang dikembangkan dengan baik mampu meningkatkan ekonomi masyarakat serta mempertahankan nilai budaya lokal agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman.
Dengan demikian, setiap produk Dagadu tidak hanya menawarkan kualitas dan keunikan, tetapi juga cerita dan warisan budaya yang hidup hingga kini. (Sergio Jubilleum Asqueli)